Melahirkan, Pilih Deket Suami Aja Atau Deket Suami Plus Ibu Tercinta????

Assalamualaikum,

Teman, dalam tulisan kali ini saya ingin berbagi sedikit kisah tentang proses melahirkan. Suatu proses yang biasanya sangat ditunggu-tunggu oleh ibu-ibu yang sedang mengandung buah hati tercinta. Bener gak??? How does it feel? Gimana persiapan untuk menghadapi persalinan nanti? Biasanya mendekati hari H suka pada shopping-shopping keperluan untuk sang calon bayi bukan? eh tapi tau gak seh, persiapan dalam menghadapi persalinan tidak hanya sekedar barang-barang kebutuhan sang calon bayi lho. Lebih dari itu, menurut saya, yang utama dipersiapkan adalah mental sang ibu.  Melahirkan adalah big thing. Melahirkan bahkan diibaratkan sebuah perjuangan hidup dan mati. Udah pada tau belom kalo orang-orang di sekitar sang ibu hamil juga bisa lho mempengaruhi mental sang ibu dalam menghadapi persalinan nanti.  Mereka juga mampu menyalurkan positive enegy. Hm…kayak gimana tuh ya bentuk sang positive energy? Yuk lah lanjut baca, teman.


Normally, seorang istri ketika dinyatakan positif hamil aja tentunya bahagia tiada tara bukan? Tak peduli setelah itu akan mengalami morning sickness atau tidak. Apalagi jika itu adalah anak pertama. Rasanya….hm, sulit dijabarkan dalam kata-kata. Setuju gak???

Begitu juga saya. Sujud syukur kepada Allah Ta’alla yang menitipkan seorang calon bayi dalam perut saya tak lama setelah menikah. Calon anak pertama. Ihiiiy. Waktu itu perasaannya campur aduk. Walau dalam posisi long distance marriage dengan suami, Saya seh happy-happy saja pada saat kehamilan.

Waktu kehamilan saya semakin besar, boro-boro berpikir hendak melahirkan di tempat suami bekerja karena suami saya bekerja di tengah hutan dan tinggal di mess perusahaan yang terletak di kota kabupaten, kota kecil dan sepi.  Tawaran ibu mertua saya kala itu untuk melahirkan di kota beliau tinggal juga  saya tolak secara halus. Kondisinya pun tidak memungkinkan karena pada saat itu saya statusnya masih pegawai kantoran. Setelah berdiskusi dengan suami akhirnya saya dan suami memutuskan bahwa saya tetap tinggal di rumah orang tua saya. Selain itu rasanya lebih nyaman juga deket mama.

Rencana dibuat, saya berkonsultasi dengan dokter kandungan saya saat itu mengenai persalinan nanti. Perkiraan lahir calon bayi saya saat itu masih sekitar dua minggu lagi. Tidak lupa dong saya informasikan kepada pak suami mengenai hal ini. Tentunya untuk ngeblok tanggal cuti dan juga tiket. Maklum kami tinggal beda kota, beda propinsi plus beda pulau pula.

Sumber foto: pondokibu.com

Rencana tinggal rencana saja. Dua hari setelah konsultasi, terjadi satu hal yang tidak pernah terbayangkan oleh saya sebelumnya. Pagi itu saya telat tiba di kantor. Yang biasanya jam setengah delapan pagi  saya udah duduk manis di kantor sambil sarapan pagi untuk yang kedua kalinya, tapi pagi itu saya tiba di kantor menjelang siang, hampir pukul sebelas. Ada sedikit kendala di perjalanan dimana saya terjebak dalam kereta yang mengalami gangguan. Eeeh baru mau mulai ngetik, mau ngisi form cuti, kok tiba-tiba rasanya ada yang ngalir di kaki. Langsung deh telpon bu dokter. Dan saya shock ketika bu dokter mengatakan ada kemungkinan itu adalah air ketuban  pecah. Saya disarankan untuk langsung ke rumah sakit, ke ruang bersalin. Saya sedikit shock mendengarnya. Namun berusaha untuk tenang.

Sak kantor terkejut ketika tahu saya mengalami pecah ketuban. Sempet kepikiran untuk pulang naik taksi dari Jakarta ke Bogor, eee bu bos saya berbaik hati deh bikin kebijakan untuk menggunakan mobil kantor. Akhirnya saya menuju rumah sakit di Bogor dengan mobil kantor yang alhamdulillah pada saat itu sedang tidak digunakan. Meluncurlah siang itu saya ke salah satu rumah sakit di Bogor, tempat saya biasa kontrol kehamilan.

Ketika kontrol kandungan terakhir saya memang sudah diinformasikan oleh dokter kandungan bahwa memasuki minggu ke 38 kelahiran bisa kapan saja terjadi. Banyak faktor yang bisa menyebabkan kelahiran tidak sesuai dengan prediksi dokter. Saya harus mulai menyiapkan mental menghadapi persalinan. Begitu pesan bu dokter di saat konsultasi terakhir.

Oh ya diperjalanan menuju Bogor, saya tidak lupa mengabari pak suami ketika di perjalanan. Hoho tidak bisa  dihubungi. Akhirnya SMS. Namun pending.  Tidak lupa juga mengabari kedua orang tua saya di rumah, dan kami pun berjanji untuk  bertemu di rumah sakit.

Ketika saya tiba di rumah sakit, SMS terkirim. Suami saya terkejut membaca SMS karena baru  dua hari kemarin kami berbincang-bincang mengenai rencana cuti. Qadarullah suami enggak dapet tiket di hari yang sama saya masuk ruang bersalin. Tiket full. Untuk tiba di rumah, dari kota tempat beliau bekerja, pak suami saya harus naik pesawat dua kali. Jadi agak susah urusan pesen tiket mendadak. Jadilah pak suami saya saat itu hanya bisa bantu memberi semangat lewat telpon, dan juga turut berdoa dari jauh. Sedangkan saya ditemani oleh mama selama persalinan. Mama yang secara langsung di TKP menyemangati saya untuk terus berjuang. Inilah salah satu resiko long distance marriage. Kalo enggak siap, think twice ya, moms!

Proses persalinan sendiri memakan waktu hingga sepuluh jam lebih dihitung sejak saya masuk kamar bersalin. Lelah, namun bahagia ketika melihat bayi mungil itu untuk pertama kalinya.

Sumber foto: resepmuslimbunda.com

Namun sebuah cerita berbeda saya dapatkan dari tulisan seorang sahabat saya ketika melahirkan anak pertamanya. Membaca cerita yang dibagikan secara online disebuah website itu membuat saya langsung japri menanyakan keabsahan cerita. Was it true? Hahaha.

Two thumbs up for you my bestie. Di usia kehamilan memasuki tujuh bulan, sahabat saya ini memutuskan untuk cuti kerja tanpa gaji selama dua tahun. Pindah ke negara di mana suaminya bekerja, Vietnam. Merantau hanya berdua di sana, tanpa ada keluarga. Dan bersiap menyambut kelahiran sang buah hati. Sebuah keputusan yang cukup nekad menurut saya. Jangan tanya saya! hingga kelahiran anak ketiga, selain pak suami menemani, mama still around me. Hehe.

Setiap kelahiran bayi selalu ada cerita. Setiap ibu yang melahirkan selalu punya cerita sendiri. Begitu juga dengan sahabat saya ini. Jadi jangan pernah bayangkan bahwa keputusan sahabat saya ini berjalan mulus dan lancar layaknya jalan tol. Tidak sama sekali.

Dimulai dengan kontrol rutin yang berakhir dengan rawat inap di rumah sakit selama satu minggu. Air ketuban mengalami penurunan, dan kondisi ini berbahaya bagi calon bayi yang ada dalam kandungan. Sempat terbesit sebuah tanya dalam benak sahabat saya ini: benarkah keputusan melahirkan jauh dari keluarga? Namun waktu tidak bisa berjalan mundur,  something done cannot be undone. Tidak  ada jalan lain selain menghadapi semuanya dengan kepala  tegak, keteguhan hati dan keyakinan yang kuat bahwa semua ini bisa dilalui. Tentunya pada pengen tau kan apa yang membuat sahabat saya terus bertahan dan bisa kembali tenang dengan keadaannya saat itu? Jawabannya adalah wajah suaminya yang tenang dan tidak panik menghadapi situasi. Sound it was simple right, but it worked guys. Buat para bapak yang ikutan baca ini dicatet ya salah satu tips menemani istri ketika melahirkan. Hehe.

Akhirnya, setelah satu minggu tanpa ada perubahan indeks air ketuban, sahabat saya dan suaminya setuju dengan saran dokter untuk mengambil tindakan operasi. Lahirlah bayi mungil nan cantik.

Sumber foto: bidanku.com

Yang saya rasakan, mama banyak sekali menolong pasca persalinan. Salah satu contoh yaitu tentang memandikan bayi. Ketika anak pertama saya lahir.  Keberanian dan kepedean saya untuk memandikan bayi mungil itu sendiri baru muncul tiga bulan setelah melahirkan. Namun ketika anak kedua dan anak ketiga seh yang satu ini udah enggak. Hehehe. Selain memandikan bayi, masih banyak lagi pengetahuan  tentang dunia perbayian yang diajarkan oleh mama.

Lalu bagaimana dengan sahabat saya yang merantau ke Ho Chi Mint ini? Katanya capek namun excited dengan pengalaman barunya sebagai seorang ibu. Suaminya pun turut ikut serta dalam take care si baby mungil. Berdua mereka lalui semuanya. Berjalannya waktu mereka mulai mengerti how to take care the baby. Hm…kekompakan suami istri sangat penting ya menghadapi keadaan seperti sahabat saya ini.

Well, semua keputusan tentang melahirkan ini ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tentunya keputusan yang diambil adalah keputusan yang terbaik dengan tetap memperhatikan kondisi dari keluarga kita masing-masing. Tetap semangat untuk para ibu hamil yang bersiap menyambut kehadiran sang buah hati. Apapun itu keputusannya, melahirkan ditemani suami atau ditemani suami plus ibu tercinta.

Mataram, 14 Februari 2018

Salam

Vidy

SuKa dengan artikel ini? Yuk, bagikan!

13 thoughts on “Melahirkan, Pilih Deket Suami Aja Atau Deket Suami Plus Ibu Tercinta????

    1. enak tuh mbak kalo suami dan mama around us. saya anak pertama dan kedua aja yg ditemenin di ruang bersalin karena pak suami still on the way. kalo anak ketiga baru deh pak suami di sisi. dan beliau amazing liat anaknya lahir. hahaha

  1. Halo Mba..
    Wah aku seneng baca ceritanya. Memang ya mba, segala yg kita putuskan ada resikonya, kyk sy juga yg ikut suami merantau sejak menikah, walaupun diusia pernikahan kami yg akan memasuki thn ke 3 blm jg dikaruniai momongan. Kebayang dr cerita mba, repotnya memutuskan dimana kita akan melahirkan.. Sejujurnya, cita2 sy kepingin deket sm ibu pas nanti sy hamil dan melahirkan kalau memungkinkan. Sejauh ini, sy sdh di dua kota sejak menikah, yaitu Sumbawa Besar dan Surabaya. Saat ini sy di Surabaya, dan orgtua sy di Jakarta. Salam kenal ya Mbak.. 😊

    1. Salam kenal juga kakaika…makasih udah mampir n komentar…Kudu bujuk_bujuk pak suami dulu supaya lahiran bisa deket ibunda. Efeknya seh jd high cost dikit hehehe.. oh ya, semoga semua harapan terkabul ya…Semangat

  2. Waktu melahirkan anak pertama, saya ngakunya ke mamah cuma mau periksa kehamilan. Mamah saya gampang panikan. Jadi daripada nanti saya ikutan panik, mending ditemenin ma suami aja hehehe.

    1. Hm..beda-beda emang. temen saya yg lain juga ada yg mamanya emoh liat anaknya melahirkan. gak tega katanya. jd pilih ditemenin suami juga deh…Salam kenal ya, makasih udah baca dan komentar.

  3. Kalau saya sebenarnya ditemani suami aja udah cukup, tapi waktu ngelahirin dulu ibu dan mertua semuanya datang. Pasca melahirkan balik ke kontrakan sama suami, tapi masih ada asisten bidan yang bantu memandikan bayi sampai tali ari-arinya putus.

    1. uwiiih rame dong ya ruang tunggu, tapi jadi seru tuh. para nenek gak mau ketinggalan momen. hehehe…hooo asisten bidannya tiap hari dateng ke rumah, mbak? uwiiih baek bener…tiga kali lahiran belom pernah neh dapet yg kayak gini. pas lahiran anak pertama aja saya dikunjungi asisten bidan, tapi itu pun seminggu setelah lahiran dan cuma satu kali doang. bincang-bincang sambil liat kondisi dedek bayi…mantep tuh pelayanannya sampe mau mandiin segala. Salam kenal ya, Mbak. Makasih udah mampir dan komentar

  4. pas anak pertama, kami cuma berdua di rantau, orang tua baru dateng besoknya. kelahiran kedua ditemani ibu dan suami. ibu penasaran pengen nemenin. kelahiran ketiga cuma berdua sama suami lagi, ibuku trauma nemenin. bisa copot jantungnya liat anaknya kesakitan katanya hahaha..

    1. Uwiiih salut berdua pak suami di rantau. Anak pertama pula. Kalo saya pas anak ketiga aja di ruang bersalin di temenin suami. Anak pertama dan ketiga ditemenin mama saya di ruang bersalin.
      Kalo pak suami gak kapok kan nemenin? Heheh
      Salam kenal. Makasih ya mbak udah mampir n komentar

  5. Anak pertama, ada ibu yang menemani di ruang persalinan. Ibu tinggal di propinsi yang berbeda, tapi sudah datang beberapa hari sebelum persalinan. Suami masih di luar pulau.
    Anak kedua, ada suami yang menemani di ruang persalinan. Ibu sudah beberapa hari ada di rumah, tapi sengaja nggak kami ajak ke poliklinik, karena kami titipi anak pertama yang kala itu usianya baru 1 tahun.
    Anak ketiga, kembali ditemani suami di ruang persalinan. Ibu sengaja belum di kabari kalau sudah dekat masa persalinan. Mau mencoba menghadapi berdua saja dengan suami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *