Baca Apa Setelah Bangun dari Sujudmu?

Assalamualaikum,

Teman, para emak yang anaknya belum lama melewati masa balitanya mungkin sering juga menghadapi pertanyaan – pertanyaan kritis dari putra-putri mereka seperti yang saya alami ini. Akhirnya saya tiba juga di masa ini. Semoga saya bisa melalui semua ini di jalur yang tepat. Doakan ya teman.

Lepas sholat isya dua hari yang lalu, tiba-tiba mas Adha, anak bujang saya yang besar, bertanya. Pertanyaannya sederhana aja seh.

“Bunda tadi pas duduk habis sujud baca apa?”

“Ya yang biasa seh. Rabbigh firlii warhamnii….,” jawab saya singkat dan santai.

“Bukan itu harusnya, Bunda. Kemaren Mas Adha belajar di sekolah, kata pak ustadz bacanya rabbigh firlii Rabbigh firlii. Paling banyak tiga kali bunda. Ndak boleh lebih dari tiga kali.” Ujarnya lagi.

Hm…mimik wajahnya menjadi serius. Saya yang tadinya santai, enggak jadi santai.

“Masa?”

“Iya. Salah Bunda bacanya tadi. Besok sholat shubuh bacanya rabbigh firlii aja ya, Bunda. Boleh dua, tapi gak boleh lebih dari tiga.”

“Dari dulu juga Bunda baca rabbigh firlii warhamni itu, Nak.”

Sekali lagi Adha menjelaskan dan bersikukuh bahwa yang ia katakan benar. Hm…dan ini jadi tidak bisa dibawa santai.

Saya jadi duduk manis di depan Mas Adha yang sedang membongkar mainan legonya.

“Kapan belajar tentang itu, Nak?”

Adha berhenti sibuk dengan legonya. Menatap saya. “Waktu kemarin, Bunda. Bener. Mas Adha enggak salah kok dengernya. Pak ustadz bilang begitu.”

Hm….bocah kelas satu SD ini keukeuh gumekeuh sekali dengen pendapatnya. Emak jadi berpikir keras. It should be cleared now. Batin saya. Apakah saya yang benar? Atau bujang kecil saya ini yang benar? Jika benar yang diucapkan bocah saya ini, maka hanya Allah Yang Maha Tahu diterima atau tidaknya amalan sholat saya  selama ini. Ihik, menyedihkan! Ataukah saya dan mas Adha yang sama-sama kurang ilmu. Oh my goodness! Ini sungguh tambah menyedihkan!

“Nak, boleh kita buka buku kumpulan doa yang biasa mas Adha bawa sekolah?”

“Ya, Bunda.”

Bersegera saya mengambil buku kumpulan doa karya Syeikhsatd Bin Wahf Al Qahthani yang diterjemahkan oleh H. Mahrus Ali. Bergerak cepat mencari halaman tentang bacaan ketika duduk antara dua sujud.

Jreng…jreeeeeeeng…

Dalam buku kumpulan doa ini dijelaskan bahwa ada dua pilihan bacaan ketika duduk antara dua sujud, yaitu:

  • Rabbigh firlii Rabbigh firlii. Doa ini berdasarkan hadist riwayat Abu Dawud: 1/ 231. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Shahih Ibnu Majah: 1/ 148
  • Allahummagh firlii warhamnii wahdinii wajburnii wa ‘aafinii warzuqnii warfa’ni. Sedangkan pilihan bacaan kedua yang bertahun-tahun saya baca merupakan hadist riwayat Ashhabus Sunan, kecuali An-Nasai. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada Shahih At-Tirmidzi: 1/ 90 dan Shahih Ibnu Majah: 1/ 148.

Bersama-sama saya dan mas Adha membaca.

“Oiya ya, Bunda. Maaf ya, Bunda. Ndak tau mas Adha.”

Saya nyengir. “Bunda juga baru tau, Nak.”  Hm…entah baru tau entah baru ngeuh. secara buku ini sudah agak lama saya miliki dan sering kali dibaca.

“Dong sama-sama baru tau kita jadinya.” Ujar mas Adha dengan logat khas khas masyarakat sasak. Begini neh kalo 3/4 darah sumatra, 1/4 darah jawa tapi tumbuh di Mataram, Lombok. Lama-lama jadi anak sasak. Hahaha.

Eh tapi mas Adha enggak puas. Ia mengambil buku Ayo Belajar Shalat karya Nizar Sa’ad Jabal, Lc., M.Pd. Buku yang sudah puluhan kali ia baca dan emaknya juga sering ikutan baca. Buku ini buku belajar sholat yang cocok sebagai buku pendamping untuk anak TK dan SD. Bersama-sama saya dan mas Adha membuka lembar demi lembar hingga halaman bacaan duduk antara dua sujud.

Sekali lagi membaca bersama-sama.

  • Rabbigh firlii Rabbigh firlii. Bacaan doa ini berdasarkan hadist riwayat Abu Dawud (874), Ibnu Majah (897) dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Wa Dhaif Ibni Majah (897).
  • Rabbigh firlii warhamnii wajburnii warzuqnii warfa’ni. Bacaan ini adalah hadist riwayat Tirmidzi (284) dan Ibnu Majah (898), dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Wa Dhaif Sunan Tirmidzi (284).

Sebuah senyuman mengambang di wajah mas Adha. Saya jadi sedikit lega bahwasanya tidak ada diantara kami yang salah. Dua buku ini padahal sudah berpuluh-puluh kali kami baca. Hm….kesimpulan sederhana saya: tampak berbeda ya efek dari membaca dan mendengarkan penjelasan dari pihak ketiga. Tapi tak mengapa, inilah sebuah proses belajar, bukan??? Semoga penjelasan dari buku-buku yang kami baca bisa nyantol terus di otak mas Adha. Doa bunda!

Diskusi-diskusi pendek seperti ini sering tercipta antara saya dan anak-anak. Anak bujang saya mulai kritis terhadap apa-apa yang disampaikan kepadanya. Jika dulu lebih sering iya-iya dengan anggukan kepala, tapi kini sudah tidak bisa begitu. Apalagi sejak sekolah SD. Hohoho.

Ilmu dalam diri ini terasa kurang. Sangat kurang bahkan. Pertanyaan-pertanyaan logis yang terkadang membuat saya harus berpikir keras mencari jawaban  yang sekiranya bisa memuaskan mas Adha dan adik-adiknya. Harus semangat terus menyirami diri dengan ilmu.

Di sisi lain saya juga berproses, berusaha  membuka diri, mau belajar, mau menerima pendapat walaupun dari seorang anak kecil-kata orang bocah ingusan,  membuang jauh ego “saya orang tua lebih tahu”, berlapang dada jika ternyata yang disampaikannya adalah benar. Mudahkah ini? Jujur, tidak! Rasa malu sedikit menyelinap di relung hati. Tapi inilah sebuah proses belajar menuju sebuah kesempurnaan. Doakan saya, ya teman. Semangat untuk para emak seperjuangan. I know I am not alone. #keukeuh cari temen.

Mataram, 23 Maret 2018

Salam

 

Vidy

 

Daftar Pustaka:

Ali, H. Mahrus (penterjemah). 1434. Kumpulan Do’a Dari Al Qur’an Dan Hadits. Saudi Arabia: Direktorat Bidang Penerbitan dan Riset Ilmiah Departemen Agama, Wakaf, Dakwah dan Bimbingan Islam.

Jabal, Nizar Sa’ad Lc., M.Pd. 2017. Ayo Belajar Shalat. Jakarta: Perisai Qur’an

 

SuKa dengan artikel ini? Yuk, bagikan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *