Tassa Dimas, Life as A Couple: Permintaan Sang Mama

Tassa Dimas, Life as A Couple: Permintaan Sang Mama

1

PERMINTAAN SANG MAMA

Tassa POV

Sarapan pagi sudah terhidang di meja makan. Irvan, adik aku satu-satunya udah duluan duduk di meja makan menyendok nasi goreng ke dalam piringnya.

“Enak nih, Ma. ” Ujar Irvan ketika suapan pertama nasi goreng buatan mama selesai dikunyah kemudian ditelannya.

“Ih  elo ya cepet banget kalo soal makanan, Van.”

“Biarin. Bentar lagi juga Mbak ikutan bilang enak terus nambah.”

“Suka-suka gue dong nambah atau enggak.”

Aku duduk di sebelah Irvan. Papa dan mama seperti biasanya senyum-senyum aja  lihat adegan “berantem” aku dan Irvan hampir setiap pagi. Aku  menyendok nasi goreng buatan mama ke piring makan yang udah disipian dari tadi sama mama.

“Dikit banget makan lo, Mbak. Diet ya? Atau masih patah hati gara-gara mantan lo itu? Udah gak usah dipikirin lagi.”

“Eh, apaan seh lo anak kecil. Ikutan aja urusan orang gede. Siapa juga yang patah hati. Sorry ye.”

“Yakali lo masih inget doi.”

“Sudah-sudah. Ayo pada sarapan dulu. “ Mama memotong percakapanku dan Irvan.

“Tas, besok jangan ke mana-mana. Bantuin Mama masak. Besok Mama mau kumpul-kumpul temen SMA di rumah.”

“Loh kok aku, Ma? Biasanya Mama minta bantuin sama mantu tersayang mama, Mbak Ika.”

“Besok Ika enggak bisa bantuin Mama. Ada acara di sekolah Hafiz.”

“Udeh seh sekali-sekali lo bantuin nyokap masak, Mbak. Hitung-hitung lo belajar sebelum nikah.” Ujar Irvan.

“Apaan seh lo.”

“Sudah-sudah. Inget besok jangan keluyuran ke mana-mana ya, Tas.”

“Iya, Ma.”

Aku mulai mengunyah nasi goreng buatan mama pagi ini yang ternyata beneran enak seperti kata Irvan. Tumben tuh anak lidahnya bener bisa bedain mana yang beneran enak sama yang enggak.

“Eh senyum-senyum. Enakkan nasi goreng Mama.” Ujar Irvan.

“Berisik lo.”

Setelah selesai sarapan pagi, aku pamit sama papa dan mama berangkat ke kantor.

XXX

Dimas POV

Aku menuruni anak tangga. Sudah rapi hendak berangkat ke kantor. Tidak lupa aku pamit kepada mami, papi, mbak Jihan dan juga mas Sandi.

“Dim, besok jangan lupa lho ya anterin Mami. Jangan bikin janji sama temen-temenmu.”

“Siap.”

“Cieeeee, mau dikenalin sama siapa lagi nih? Kayaknya Mami gak sabar banget pengen mantu lagi. Yang kemaren gak sreg di hati lagi ya Dim?”

“Iye. Lebay banget deh tuh cewek. Males.”

“Dimas.” Mata mami melotot melihat ke arahku. “Peace, Mom. Berangkat dulu ya.”

“Iya. Besok itu kamu ikut nunggu lho ya di rumah temen Mami.”

Seketika langkah kakiku terhenti. “Apa Mi? Nunggu di sana? Ngapaian juga aku ikut nimbrung sama Mami. Di-drop kayak biasa aja ya.”

“Sudah enggak usah banyak tanya. Udah berangkat kerja sana.”

Mbak Jihan puas banget tertawa. “Syukurin lo. Gak tenang deh kerja hari ini”

“Ih rese lo pagi-pagi, Mbak.”

Mas Sandi mencolek lengan mbak Jihan yang seketika membuatnya berhenti tertawa.

“Assalamualaikum.” Aku melangkahkan kaki keluar.

XXX

NOTE:

To get news update about this novel please follow our instagram @novelbyviedyana

Thank you.

SuKa dengan artikel ini? Yuk, bagikan!

Viedyana

Emak dari tiga bocah kecil, domisili di Mataram, Lombok. Suka jalan-jalan, icip-icip makanan, dan menulis. Ada yang ingin ditanyakan atau bekerjasama untuk review usaha, produk dan lain-lain silahkan kontak vidya.nafsil@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *