Tassa Dimas Life as A Couple: Ngerumpi by The Phone

Tassa Dimas Life as A Couple: Ngerumpi by The Phone

6

NGERUMPI BY THE PHONE

Tassa POV

Di kamar. Aku langsung rebahan. Rasanya lelah sekali hari ini. Terdengar suara notifikasi pesan masuk di hape. Edna. Ada banyak pesan belum dibaca dan ada juga panggilan tak terjawab. Aku baru hendak membaca isi pesan Edna, namun udah keburu ditelpon sama dia. Aku usap tanda terima telpon di layar hape.

“Kenapa? Baru juga ketemu tadi, dah telpon-telpon gue aja lo. Penting banget kayaknya ampe berkali-kali.”

Edna tertawa. “Yakali tadi lo bikin jantung gue hampir copot.”

“Kenapa?”

“Yaelah belagak begok. Siapa tuh Dimas? Kagak cerita-cerita lo dah dapet cowok baru.”

“Iiiisssh elo ye. Dimas bukan cowok gue.”

“Iiiihhh elo ye boong banget. Dari cara dia treatment elo aja gue bisa tau dia suka sama elo.”

“Ngawur aja lo malem-malem, Na.”

“Kok ngawur sih. Itu fakta, Bu. Adnil ampe nanya gue pas pulang. Itu cowok baru Tassa ya. Dan gue bingung mau jawab apa. Hahaha”

Suara tawa Edna terdengar riang sekali.”Makanya sekarang lo update gue dong beritanya.”

“Isshh Edna apa-apaan sih lo.”

“Betewe lo kenal Dimas di mana, Tas?  Baru liat gue”

“Aduuuh lo kepo banget ya. Cerewet.”

Edna tertawa. “Biarin. Gue kepo bin cerewet kan sama elo doang. Gue penasaran kok lo bisa cepet banget dapet cowok lagi. Keren pula. Baru juga sebulan yang lalu lo nangis-nangis bombai sama gue, Aira dan Maya. Ampe bela-belain liburan ke Bandung segala.”

“Aduh ceritanya panjang kali lebar. Tapi dia bukan cowok gue, Catet Nyokap yang maksa-makasa gue kenalan sama dia.”

“Dijodohin lo, Tas?”

“Ih hari gini. Please deh ah.”

“Baiklah. Whatever. Besok kita ketemu lagi yuk. Ketemu berempat. Gimana?”

“Lo mau suruh gue press conference?”

Edna tertawa di ujung sana. “Mau gak lo?”

“Ya udah ayuk, tapi gue gak mau ketemuan di Plaza Indonesia.”

“Gimana kalo di PP?”

“Oke.”

“Sip. Pulang kerja ya. Gue share di grup.”

“Oke.”

See you tomorrow, Sista. Mimpi indah ya.”

“Apaan sih lo, Na.”

Edna tertawa puas.

Klik. Telepon ditutup.

XXX

Dimas POV

Akhirnya sampai juga di rumah. “Assalamualaikum.”

Aku membuka pintu rumah. Terdengar suara jawaban salam dari dalam rumah. Papi, Mami, mbak Jihan dan mas Sandi lagi ngumpul di ruang keluarga.

“Abis lembur, Dim?” tanya Mami.

“Enggak, Mi. Keluar kantor kayak biasa.”

“Nongkrong sama temen-temenmu lagi ya?”

Aku tak menjawab pertanyaan mami. Aku ke ruang makan mengambil segelas air putih, kemudian kembali ke ruang keluarga. “Oh ya, Mi. Hampir lupa.  Mami ada salam dari mamanya Tassa.”

Mami yang tadinya serius menonton tivi jadi menoleh ke arah aku yang masih berdiri.  “Dari siapa?”

“Mamanya Tassa. Yang kemaren Mami reunian.”

“Kamu habis dari sana, Dim? Ngapain?”

“Nganterin Tassa pulang.”

Seketika seruan mbak Jihan menggema di ruangan. “Uwaaaah bergerak cepat nih yang sekarang. Enggak kayak yang kemaren-kemaren progressnya. Ihiiy bulan depan mami mantu.”

“Apaan sih lo, Mbak.”

“Jihan.” Mami melotot ke arah mbak Jihan. Yang dipelototin cengengesan doang. “Pulang kantor kamu ketemuan sama Tassa, Dim?”

“Iya, Mi.”

Senyuman lebar menghiasi wajah mami. Papi yang lagi baca koran juga senyum-senyum. Dan semua pun tampak bahagia termasuk mas Sandi yang biasanya kalem aja.

“Ke kamar dulu ya Mi, Pi.”

“Iya.” Jawab mereka kompak.

“Mimpi indah ya, Brother.” Ujar mbak Jihan.

Aku sudah tidak menoleh lagi ke arah ruang keluarga. Namun aku masih bisa mendengar mbak Jihan diomelin papi. Duh punya kakak satu aja usilnya minta ampun dah. Aku terus menaiki tangga kemudian masuk ke kamarku.

Aku duduk di kasur sambil bersandar ke kepala tempat tidur. Aku mencari nama Tassa yang tadi baru aku save ketika di taksi. Aku berpikir lama. Bimbang antara ingin menelpon atau tidak. Akhirnya aku urungkan.

Aku menghirup nafas panjang kemudian menghembuskannya pelan. Apa yang telah aku lakukan. I’ve gone too far and too fast. Calon istri? Huft, how can I say that? Kenapa juga tadi nganterin Tassa sampe depan pintu rumahnya. Dan kini kenapa juga pengen telpon dia. Ah sudahlah. Aku melempar hape ke kasur kemudian mandi, ganti baju dan kemudian sholat isya.

Selesai sholat isya, sekali lagi aku meraih hape. Entah kenapa dorongan untuk menelpon itu kuat sekali. Akhirnya aku pencet juga no Tassa. Memanggil. Namun tak kunjung diangkat. Aku mencari di kontak whatsapp. There she is.

Assalamualaikum, Tas. Ini gue Dimas.

Tak lama setelah pesan terkirim, tanda berganti dengan pesan telah dibaca. Sekali lagi aku memencet nomor Tassa.

“Ya.”

“Hi. Lagi apa lo?”

“Mau tidur. Ada apa?”

“Gak ada apa-apa.”

“Ngapain lo telpon gue?

“Gak apa-apa. Eh tadi lo gak dimarahin nyokapkan?”

“Enggak. Kenapa?”

“Gak apa-apa. Ya sudah.”

Bye.”

Klik. Sambungan ditutup oleh Tassa. Aku menghembuskan nafas panjang. Apakah ini yang disebut dengan …….Ah sudahlah.

XXX

Note:

Get news update about this novel by follow our instagram account @novelbyviedyana. Thank you.

SuKa dengan artikel ini? Yuk, bagikan!

Viedyana

Emak dari tiga bocah kecil, domisili di Mataram, Lombok. Suka jalan-jalan, icip-icip makanan, dan menulis. Ada yang ingin ditanyakan atau bekerjasama untuk review usaha, produk dan lain-lain silahkan kontak vidya.nafsil@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *