Tassa Dimas Life as A Couple: Jumat Ceria Tak Ceria

Tassa Dimas Life as A Couple: Jumat Ceria Tak Ceria

7

JUMAT CERIA TAK CERIA

Tassa POV

I love Friday walaupun selalu kena macet sewaktu pulang ke rumah. Tetep I love Friday. Waktu menunjukkan pukul lima lebih. Aku bergegas merapikan meja, nge-save file-file pekerjaan dan kemudian mematikan komputer.

“Gak pulang, Tas? Tanya mbak Ratih.

“Ini mau pulang.”

Komputer mati sempurna. Aku berdiri kemudian ikut berjalan di belakang mbak Ratih. Langkahku terhenti di depan pintu lift. Seperti biasa ngantri lift turun kalo judulnya jam pulang.

“Rapi bener, Tas?”

Aku nyengir.

“Nge-date sama cowok yang ketemu di Plaza Indonesia kemaren ya.”

“Ih sembarangan, mbak Ratih. Gue mau ke PP, janjian sama Edna, Aira, Maya. Temen kuliah  dulu.”

“Kirain.”

“Curiga aja lo, Mbak.”

Mbak Ratih nyengir. Pintu lift terbuka, aku dan teman-teman lainnya yang juga ngantri lift masuk satu persatu. Pintu menutup, lift turun perlahan.

Aku berpisah dengan mbak Ratih ketika keluar dari gedung.

Bye, Tas.”

Bye, mbak cantik.”

Aku menunggu taksi cukup lama. Liat busway antriannya panjang bener, jadi males duluan.

Akhirnya kaki ini melenggang indah di Pacific Place, salah satu sarangnya barang-barang branded di Jakarta. Aku langsung menuju  restoran tempat aku janjian dengan Edna, Aira dan Maya.

“Tassa.”

Seseorang memanggilku dari arah belakang ketika hendak masuk ke dalam restoran. Aku berhenti dan  menoleh ke arah datangnya suara. Perempuan itu. Tari. Begitu Dimas memanggilnya.

“Ya.”

“Bisa bicara sebentar?”

“Ya. Ada apa?”

Kami menepi.

“Ada perlu apa?”

“Langsung saja ya. Apakah benar yang disebut oleh Dimas kemaren? Kalian akan menikah?”

“Kenapa? Apakah itu mengganggu lo?”

“Enggak juga sih. Hanya saja rasa-rasanya tidak mungkin. Kita baru bertemu bulan kemaren bukan di Manggala Wanabakti? Kamu tentunya ingat bukan?”

I clearly remember who you are. Aku berkata dalam hati. “Kalo menurut lo itu enggak mungkin, maka abaikan saja. Enggak perlu risau ampe nemuin gue hanya untuk konfirmasi. Silahkan tanya lagi saja sama yang ngomong. Masih ada yang ingin dibicarakan?” Ujarku merespon pertanyaan Tari.

 Tari menatapku tajam. Ia tidak menjawab pertanyaanku.  Aku juga tidak peduli ia menjawab atau tidak.

“Sudah tidak ada kan? Permisi.” Aku berlalu meninggalkan Tari yang masih saja terdiam.

Aku melangkahkan kaki masuk ke restoran, menuju meja Edna, Aira dan Maya. Fuih mereka sudah lengkap di sana.

“Kita makan bareng-bareng kayak biasa aja kan? Tadi kita-kita udah pesen ini.” Aira menunjuk ke beberapa menu. “Mau nambah lagi gak, Tas?” ujar Aira lagi.

“Cukup deh itu.” Jawabku.

“Lo tinggal pesen minum ya, Tas”

“Siap.”

Aira memanggil pelayan yang stand by. Aku memesan orange juice.

“Cewek yang manggil lo tadi siapa, Tas?” tanya Maya.

“Cewek barunya Diki.”

Edna yang sedang minum hampir tersedak. Aira yang sedang fokus dengan hapenya langsung menatapku.

“Serius lo?”

“Dua rius gue.”

“Ngapain dia nyamperin lo? Gak cukup dia rebut Diki dari lo?”

“Enggak, dia gak ngomongin Diki kok. Dia nanyain Dimas.”

“Apa?” Ujar Edna

“Dimas siapa?” Tanya Aira dan Maya serempak.

“Cowok baru Tassa.” Ujar Edna dengan santainya. Senyum-senyum gak jelas.

Hapeku berdering. nomor Dimas. Panjang umur nih orang. Cukup lama tak aku angkat, tapi hapeku berdering terus. Huft. Akhirnya aku menjawab telpon. Ketiga sahabatku seketika sunyi.

“Hallo”

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

“Lo di mana Tas?”

“Ada apa?”

“Lo masih di kantor?”

“Gue udah pulang.”

“Ooooo.”

“Udah ya. Gue lagi sibuk. Bye.”

Klik. Aku mematikan hape.

“Dimas, Tas?” tanya Edna.

“Iya.”

“Apa?” Aira dan Maya lagi-lagi paduan suara.

“Gila lo baru jadian kagak ada romantis-romantisnya.”

“Kan gue udah bilang dia bukan cowok gue. Lo aja yang nyimpulin sendiri kalo dia cowok gue.”

“Ya gimana ya, dia begitu ke elo. Eh tapi bukan gue doang lho yang berpikir begitu. Adnil aja yang jarang-jarang komentar juga berpikir yang sama dengan gue.”

“Iiiih kalian berdua ini cerita apa sih. Gak mudeng nih gue.” Ujar Maya.

“ Ceritainnya abis makan aja ya. Panjang kali lebar soalnya.”

“Sekarang aja, Tas. Sekalian nungguin makanan kita dateng. Cerita seru nih kayaknya.” Ujar Aira.

“Berisik lo.”

“Cerita perjodohan lo kayaknya lebih seru dibanding gue, Tas. Gak pake drama-drama kayak sinetron.” Maya cekikikan.

“Emang lo dijodohin juga, May? Serius lo?” Aku terbelalak mendengar kalimat yang meluncur dari mulut Maya.

Kini tiga pasang mata tertuju ke arah Maya. Tapi yang dipelototin cuma cengengesan.

“Serius lo?” Ujarku. Jujur aku sungguh penasaran. Bagaimana bisa sahabatku ini bisa santai dengan urusan perjodohan. 

“Enggak ada drama-drama. Bingung juga gue mau cerita apa. Gue dah lihat seh fotonya. Baru besok mau ketemuan. Gue, dia dan kedua orang tua kita. That’s all. Singkatkan.” Maya tertawa.

“Iiissshhh…Nyebelin banget lo, May.” Ujarku.

“Makanya gue bilang lebih seru cerita lo, Tas. Setuju, Gak?” Ujar Maya.

“Yoaaa.”  Mereka bertiga menjawab serempak dan tertawa dengan wajah puas. Dan aku pun mau tak mau bercerita kronologi cerita pertemuanku dengan Dimas dan Tari. Cerita yang sukses membuat ketiga sahabatku melongo. Kata mereka sih takjub tak percaya. Lebai bangetkan.

Dan kemudian makanan pesanan kami datang. Mari makan.

XXX

Note:

Get news update about this novel by follow our instagram account @novelbyviedyana. Thank you.

SuKa dengan artikel ini? Yuk, bagikan!

Viedyana

Emak dari tiga bocah kecil, domisili di Mataram, Lombok. Suka jalan-jalan, icip-icip makanan, dan menulis. Ada yang ingin ditanyakan atau bekerjasama untuk review usaha, produk dan lain-lain silahkan kontak vidya.nafsil@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *