Kuta Lombok yang Kini Lebih Ramah Anak

Kuta Lombok yang Kini Lebih Ramah Anak

Bismillah.

Assalamualaikum. Tahun telah berganti, Gempa pun sudah sangat jarang menyapa kota Mataram. Kehidupan sudah mulai kondusif, aman dan terkendali. Rasa was-was sedikit demi sedikit berkurang. Dan anak-anak mulai menagih janji bapaknya untuk kembali menghabiskan waktu di pantai.

Jadi ke mana kita?

Akhir tahun 2017 ketika hendak ke pantai Putri Nyale, saya dan keluarga iseng lewat pantai Kuta yang sedang berbenah. Para pekerja sibuk memperbaiki jalan dan trotoar. Di beberapa tempat terdapat alat-alat berat. Dan sambil lewat ketika mata ini memandang ke lautan lepas, saya melihat playground anak-anak tidak jauh dari bibir pantai. Sepertinya permainan anak-anak itu beralaskan pasir pantai. Dan kami juga melewati spot foto kekinian di pantai Kuta, yaitu deretan huruf balok di punggung bukit karang. Namun saat itu saya dan keluarga tidak turun dari mobil. Kami lanjut ke Pantai Putri Nyale. Oleh karena anak-anak minta ke pantai, ingatan saya kembali ke playground di tepi pantai Kuta. Then here we go.

Baca juga: Nyasar ke Pantai Putri Nyale

(8/3/19), Siang itu, setelah selesai sholat jumat,  saya dan keluarga meluncur ke pantai Kuta sekitar satu jam-an dari kota Mataram. Alhamdulillah perjalanan lancar dan akhirnya menjejakkan kaki di pantai setelah drama gempa yang bertubi -tubi tahun 2018 silam.

Kini pengunjung yang ingin menikmati pantai Kuta diarahkan untuk parkir di lahan yang sudah disediakan, yaitu di di ujung jalan Raya Kuta sebelum belok ke jalan pariwisata yang menjadi jalan utama di sepanjang pantai Kuta. Terdapat sebuah palang portal yang dijaga oleh dua satpam.  mobil tidak diperkenankan untuk parkir lama di sepanjang  jalan Pariwisata. Namun jika hanya ingin lewat saja, pak satpam akan mempersilahkan mobil untuk masuk. Baiklah, yuk mari parkir dulu.

Dari tempat parkir kami menyusuri tepi jalan utama pantai Kuta menuju pusat keramaian pantai. Deretan hotel, rumah makan, dan kafe memenuhi salah satu sisi jalan. Sedangkan sisi jalan lainnya di biarkan menjadi area terbuka hingga ke bibir pantai.

Tidak sampai lima menit berjalan santai kami sudah tiba di spot favorit para pecinta foto, yaitu di sebuah pelataran luas di depan bukit karang yang terdapat deretan huruf balok besar di punggungnya. Deretan huruf balok itu bertuliskan Kuta Mandalika.  Saya tidak berhenti lama di spot ini karena duo bujang kecil saya kurang suka berfoto. Pun begitu dengan pak suami saya. Emak kalah suara masalah yang satu ini. Tapi emak tetap senang walau hanya sebentar. Yang penting sudah menjejakkan kaki di sini. Haha. Enggak penting banget ya.

Ketika melihat seluncuran dari kejauhan, anak-anak langsung minta untuk bermain di playground. Ini dia yang saya lihat sekilas dari mobil ketika tahun 2017 silam. Beberapa buah permainan anak-anak di bibir pantai

Oh ya di salah satu deretan rumah makan yang berdiri di sisi jalan utama pantai terdapat restoran Segare Anak yang pernah saya kunjungi dengan suami sembilan tahun yang lalu. Aih restoran itu tidak jauh berbeda dengan dulu kala. Namun kami tidak jadi mampir ke sana karena anak-anak lebih tertarik untuk bermain air dan pasir di tepi pantai. See you next time Segare Anak.

Akhirnya saya dan keluarga berlabuh juga di tepi pantai. Anak-anak  langsung main di area playground. Ada seluncuran, jungkat jungkit dan tidak ketinggalan ayunan. Senangnya ada alternatif permainan untuk anak-anak selain bermain air di tepi pantai. Yeay, pantai Kuta jadi terlihat beda daripada pantai-pantai lainnya. Sedikit lebih ramah anak. Setuju??  Oh ya, ayunannya cukup kuat kok untuk dewasa.

Siang menjelang sore itu, ombak besar  pecah di tengah lautan, riak air laut di bibir pantai cenderung tenang. Sepertinya air laut juga sedang surut. Karang-karang di tepi pantai yang biasanya terlihat samar karena tertutup air laut kini terlihat jelas.  Well, saya jadi tidak terlalu khawatir membiarkan anak-anak bermain air di tepi pantai. Mereka membuat benteng dari pasir pantai, mengambil kerang-kerang yang bertebaran di sekitar mereka kemudian menatanya di deket benteng pasir yang mereka buat. Tidak hanya duo bujang kecil saya saja yang bahagia. Namun juga Nadya, gadis kecil saya yang masih berusia 2 tahun 8 bulan. Saya senang sekali melihat wajah riang anak-anak dari kejauhan. Aih mereka bahagia banget bermain pasir kembali setelah puasa ke pantai lebih dari enam bulan.

Tidak jauh dari area playground juga terdapat deretan huruf balok bertuliskan The Mandalika Kuta Lombok. Tapi kini latar belakangnya bukan lagi bukit karang, namun mata akan dimanjakan dengan birunya air laut dan juga deburan ombak pantai Kuta. Tetap cantik.

Puas bermain dan menghabiskan waktu di tepi pantai, saya dan rombongan kembali ke mobil dengan menyusuri tepi pantai. Tidak melewati jalan utama. Ihiiy ada spot kece lho. Berjalan di atas pasir  melewati celah antara dua bukit karang nan kokoh.

Eits, lagi-lagi saya melihat sebuah ayunan di tepi pantai. Kali ini deket dengan area parkiran mobil. Kembali ke area parkir mobil, alhamdulillah deket dengan toilet umum yang sepertinya dikelola oleh masyarakat sekitar. Anak-anak langsung masuk kamar mandi untuk bilas. Mandi Rp. 5000. Sedangkan buang air kecil dan besar Rp. 3,000. Standarlah ya untuk ukuran daerah wisata.

 Selesai bilas hari sudah semakin sore. Saya dan keluarga pulang ke Mataram. See you next time Kuta. What a happy short vacation.

Mataram, 14 Maret 201

SuKa dengan artikel ini? Yuk, bagikan!

Viedyana

Emak dari tiga bocah kecil, domisili di Mataram, Lombok. Suka jalan-jalan, icip-icip makanan, dan menulis. Ada yang ingin ditanyakan atau bekerjasama untuk review usaha, produk dan lain-lain silahkan kontak vidya.nafsil@gmail.com

8 thoughts on “Kuta Lombok yang Kini Lebih Ramah Anak

  1. kalo dilihat – lihat memang ramah sekali untuk anak dengan wahana permainannya apalagi persis menghadap ke laut yah sambil main kena angin laut wih asoy sekali ^_^
    terus gak rame – rame banget mbak cocok juga tuh buat nyantai melepas penat bekerja lama dan merencanakan liburan kesana.

  2. Wah asyiknya ada spot untuk anak-anak. Bisa jadi destinasi liburan ntar nih! Soalnya saya suka mikir kalau mau bawa anak ke pantai, selain ngawasinnya kudu extra dan kebanyakan pantai gak ada playground kayak gini.

    1. Iya mbak. Udah lama ini gak mantai..trauma gempa..eee kmren “disapa” lagi..iyes, emak kudu banyak sabaaaar. Yang penting bocah bahagia. Emak pun ikut bahagia. Wkwkwk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *