TassaDimas LIfe as A Couple: Permintaan Khusus

TassaDimas LIfe as A Couple: Permintaan Khusus

9

PERMINTAAN KHUSUS

Bu Namira –Mami Dimas  POV

Pagi ini seperti biasa, aku sibuk menyiapkan sarapan pagi. Menata meja makan. Tiba-tiba Dimas duduk di salah satu kursi meja makan. Ia memperhatikan aku dengan seksama.

“Tumben nemenin Mami nyiapin sarapan.”

“Pengen aja. Udah lama enggak. Papi mana, Mam?” tanya Dimas.

“Tuh.” Aku menunjuk ke arah Dimas karena papinya sedang jalan di belakangnya.

Dimas menoleh ke belakang.

“Ada apa? Tumben nanyain Papi.” Ujar suamiku.

“Mbak Jihan sama mas Sandi kok tumben belom keliatan, Mi? Biasanya berisik banget tiap pagi.”

“Mbak sama Masmu sudah berangkat tadi sebelum shubuh. Hari ini mereka ke luar kota, pesawat pagi.” Ujarku.

“Ooo…”

“Gimana jalan-jalan ke Lombok kemaren ? Sudah amankan? Gak ada gempa lagi?” Tanya Papi.

“Aman, Pi.”

“Oh ya, baguslah.”

“Jadi kamu jalan kemana aja?”

“Enggak banyak kok Mi. Senggigi, Tanjung Aan, Kuta Mandalika, Mawun dan pantai Selong Belanak.”

“Beneran bagus ya pantainya?”

“Iya. Mami, boleh minta tolong gak?”

“Minta tolong sama Mami?”

“Iya.”

Wajah Dimas terlihat serius sekali. Aku duduk tepat di kursi seberang Dimas. “Ya boleh dong. Apa yang bisa Mami bantu?” ujarku.

“Minta tolong Mami yang tanyain sama mamanya Tassa, kapan kita sekeluarga bisa silaturahmi ke sana.” Ujar Dimas.

“Apa, Dim?” Papi Dimas, suamiku, langsung meletakkan koran paginya.

“Maksud kamu hendak melamar atau kenalan orang tua, Dim?” tanyaku.

“Lah, Mami sama Papi bukannya  udah kenal sama mama dan papanya Tassa.”

“Kalo Papi kenal-kenal gitu doang. Ngobrol sebentar pas dikondangan. Itupun gak selalu ketemu. Yang temenan kan Mami kamu sama mamanya Tassa.” Jawab  papi.

“Ooo gitu. Jadi menurut Mami sebaiknya ini gimana? Mami yang atur ya.”

“Kamu serius Dimas?”

“Iya seriuslah, Mi. Masak yang kayak gini maen-maen. Kan gak lucu, Mi.”

“Kamu lagi gak becandakan, Dim?”

“Enggak, Mami sayang.”

Dimas mengambil dua lembar roti tawar. Kemudian mengoleskan margarin dan menaburkan meises coklat. Setelah menghabiskan sarapannya Dimas izin pamit berangkat ke kantor. Tinggal aku dan suamiku di meja makan.

“Bagaimana ini, Pi?”

“Bukankah baru minggu kemarin ya Mami kenalin Dimas ke Tassa?”

Aku mengangguk.

“Kalau enggak begini saja, Mi. Coba Mami hubungi mamanya Tassa. Kita ajak makan malam di luar malam ini. Rumah makan yang tengah-tengah antara rumah kita dan rumah mereka. Gak usah yang jauh-jauh supaya menghemat waktu juga.”

“Mami coba hubungi pagi ini ya, Pi.”

“Kalau bisa Papi udah dapet kabar sebelum siang ya, Mi. Nanti Papi izin pulang cepet aja. Supaya bisa siap-siap juga.”

Aku mengangguk. “Pi, kok Mami jadi deg-degan ya?”

“Loh bukannya memang ini yang Mami mau?”

“Iya sih, tapi enggak nyangka juga bakal secepet ini.”

Papi ketawa kemudian pamit berangkat kerja. Tinggal aku sendiri bengong di ruang makan. Aku masih gak percaya dengan permintaan Dimas.

 “Bu, kok pagi-pagi udah ngelamun?” Tanya mbak Wasti, ART di rumahku.

 “Gak apa-apa, Mbak Wasti.”

  Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan lebih. Aku bergegas mengambil hapeku. Apalagi jka bukan menelpon Ayana, temen SMA ku dulu. Nada panggil sudah tersambung. Aku jadi deg-degan menunggu telpon diangkat.

“Assalamualaikum, Namira.” Ujar Ayana di seberang sana.

“Waalaikumsalam.” Jawabku pelan. “Sibuk, Na?” Tanyaku

“Enggak. Semua udah berangkat kerja. Jadi bisa agak santai di rumah.”

“Apa kabar?”

“Baik, Na.”

“Tumben nelpon segala.”

“Ini..aduh gimana nyampeinnya ya..”

“Kenapa, Ra?”

“Aku bingung harus mulai dari mana, Na. Begini, aku sama mas Irwan mau ngajak kamu sama mas Rei makan bareng nanti malam.”

“Berempat aja?”

“Iya, Na. Ngomongin tentang anak-anak.”

“Anak-anak?”

“Iya, gimana kalau kita ketemuan abis magrib di Shabu Hachi Bintaro?”

“Aku kabarin mas Rei dulu, nanti aku kabarin lagi gimana, Ra?”

“Baik. Ntar kita lanjut di WA ya.”

“Oke.”

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Klik. Aku menutup telpon.

XXX

Bu Ayana – Mama Tassa POV

Klik. Percakapanku dengan Namira sudah selesai. Dan aku terdiam. Bingung. Namira bicara tentang anak-anak? Maksudnya Tassa dan Dimaskah? Tassa tidak ada bicara apa-apa tentang hubungannya dengan Dimas. Duh ada apa ya? Seketika aku menjadi risau dengan ajakan makan malam Namira.

Aku segera memencet nomor mas Rei.

Kriiiiiiiing.

Nada panggil berdering agak lama.

“Assalamualaikum, Ma.” Ujar mas Rei diseberang sana.

“Waalaikumsalam. Pa, barusan Namira temen mama telpon.  Ngajak kita makan malem bareng di Shabu Hachi ba’da magrib. ”

“Nanti malam? Kok mendadak sekali baru bilang pagi ini?”

“Mama kurang tahu juga, Pa. Sepertinya serius, Pa. Namira bilang mau ngomongin anak-anak.”

“ya sudah, nanti Papa pulang cepet dari kantor.”

“Oke. Mama kabarin Namira kalau kita bisa ya nanti malam.”

“Oke.”

“Papa silahkan lanjut kerja lagi. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Klik. Telpon ditutup.

Aku mengabari Namira tentang acara makan nanti malam. Kami janjian untuk bertemu di Shabu Hachi setelah magrib.

XXX

Note: Get the complete chapter on menu bar, or by click this: Tassa Dimas Life as A Couple.

IG: @novelbyviedyana

SuKa dengan artikel ini? Yuk, bagikan!

Viedyana

Emak dari tiga bocah kecil, domisili di Mataram, Lombok. Suka jalan-jalan, icip-icip makanan, dan menulis. Ada yang ingin ditanyakan atau bekerjasama untuk review usaha, produk dan lain-lain silahkan kontak vidya.nafsil@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *