TassaDimas Life as A Couple: Makan Siang Bersama dan Sebuah Oleh-oleh

TassaDimas Life as A Couple: Makan Siang Bersama dan Sebuah Oleh-oleh

10

Makan Siang Bersama dan Sebuah Oleh-oleh

Tassa POV.

Monday. Back to work. Senin pagi yang diisi dengan meeting marathon. Fuih. Bikin perutku bernyanyi pengen cepet-cepet diisi. Snack meeting gak nampol buat ngeganjel perutku. Lima belas menit menuju pukul dua belas teng, akhirnya rapat selesai. Rasanya pengen jingkrak jingkrak. Aku kembali ke meja kerja. Bersiap untuk turun. Lunch time.

Aku nyamperin meja mbak Ratih. “Makan gak? Rajin bener kerjanya.”

“Tumben lo dah siap makan, Tas.”

“Laper.”

“Yuk.”  Ujar Santi dan Leli yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelahku.

Berempat kami mengantri untuk turun.

“Kita makan di warung belakang gedung aja yuk, ” Ujar Leli.

“Boleh-boleh.” Aku, mbak Ratih dan Santi kompak menjawab.

Keluar dari lift kami berempat menuju pintu keluar.

XXX

Dimas POV

“Tassa..”  

 Tassa menoleh ke arahku. Aku mendekatinya.

“Duluan ya, Tas.” Ujar salah satu teman kantor Tassa. Mereka beranjak pergi. Meninggalkan aku dan Tassa berdua. Bagus nih temen Tassa pengertian banget.

Aku sudah berdiri di depan Tassa. Ia tidak jadi melangkahkan kaki mengikuti teman-temannya.

“Ada apa?” Tassa menatapku dengan kurang ramah.

“Gue mau ajak lo makan siang bareng.”

Tassa menatapku dengan tatapan menyelidik. “Tau dari mana gue kerja di gedung ini?”

“Waktu kemaren lo bilang kerja di gedung sebrang.”

“Di deretan ini banyak gedung kali.”

“Kan ada linkedin yang  bisa bantu gue. Lo kerja di mana dan apa posisi terakhir lo sekarang. I know it.”

“ish.” Tassa semakin menunjukkan wajah tak bersahabat.  

“Yuk.” Ujarku tanpa menunggu jawaban Tassa.

Tassa masih berdiri diam.

“Mau digandeng lagi kayak kemaren?”

“Apaan sih lo, Dim.”

Dan kali ini raut wajah Tassa sama seperti waktu di mall Plaza Indonesia tempo hari. Jutek abis.

“Mau ya makan siang bareng?”

“Ya udah. Makan di kantin gedung ini aja.” Ujar Tassa.

It’s okay.”

Aku mengikuti Tassa. Kami makan siang bareng di kantin gedung tempat Tassa bekerja. Beberapa orang menyapa Tassa selama kami makan bersama.

Sebelum meninggalkan meja tempat kami makan, aku memberikan oleh-oleh yang aku belikan di Lombok kemarin untuk Tassa.

“Apaan nih?”

“Sedikit oleh-oleh buat lo. Weekend kemaren gue nge-trip ke Lombok.”

Sekali lagi Tassa menatapku dengan tatapan menyelidik.

“Ini gak ada udang di balik batu kan?”

“Yaelah Tas, ngasih oleh-oleh doang dibilang udang di balik batu. Ampun deh lo.”

Tassa mau mengeluarkan isi yang ada di dalam kantong kertas oleh-oleh itu.

“Eh gak usah dibuka di sini, Tas. Ntar aja di rumah.”

“Ooo ya sudah. Thank you.”

“Sama-sama.”

Aku dan Tassa melangkah ke luar dari kantin. Kembali ke lobi. Aku mengantar Tassa hingga ia mau masuk lift.

“Tas, ntar oleh-olehnya dipake ya pas gue ke rumah lo.”

“Apa?” Tassa menoleh.

“Udah masuk sana. Bye.”

Aku pergi meninggalkan Tassa. Back to the office.

XXX

Tassa POV

Kembali ke lantai tempatku bekerja. Ternyata ketiga temenku belom pulang dari makan siang mereka. Aku memutuskan untuk sholat dzuhur terlebih dahulu sebelum kembali mulai kerja. Sholat kalo di nanti-nanti yang ada kebablasan.

Selesai sholat dzuhur aku kembali ke meja kerja menghadapi kerjaan yang menggunung. Report oh report. Hidup kok gak jauh-jauh dari report. Tiba-tiba aku teringat pemberian Dimas ketika makan siang tadi. Eh kenapa juga harus ngikutin kata Dimas buka oleh-olehnya di rumah. Aku meraih tas kertas  pemberian Dimas kemudian mengeluarkan isinya. Sebuah kotak dengan lapis kain beludru berwarna merah. Seperti kotak perhiasan. Aku segera membukanya. Set perhiasan mutiara tanpa cincin. Hanya ada anting, kalung dan gelang. Aku menatap takjub set perhiasan ini. Mutiara itu besarnya sedang, kilaunya bagus, warnanya alami, dan hanya ada sedikit bintik di setiap mutiara. Sea pearl. Begitu yang tertulis di sertifikat mutiara ini. “Ini bagus banget.” Ujarku pelan sambil mengambil kalung yang kemudian aku hampar di telapak tangan kiriku.

“Cieeeeee, hadiah dari cowok baru nih.”

Aku kaget mendengar suara mbak Ratih. Jadi salah tingkah sendiri.

“Apaan sih lo, Mbak. Cowok yang mana? Gue kan jomblo.” Aku nyengir.

“Yang tadi kita ketemu di lobi dong.”

“Ish dia bukan cowok gue kali.”

“Masa?”

“Beneran. Ngapain juga gue bohong sama elo. Gak ada untungnya.”

“Itu yang elo pegang dari diakan?”

Please deh, Mbak.”

“Tapi dia suka elo, Tas.”

“Ngarang deh lo.”

I can see in his eyes.

“Iish gaya lo, Mbak.”

“Hayoo ngaku, benerkan mutiara itu dari dia. Bohong dosa lho.”

“Susah dah jelasin ke elo, Mbak.”

Mbak Ratih tertawa. “ Betewe itu mutiara laut kayaknya ya?”

“Lo ngerti mutiara, Mbak?”

“Dikit-dikit sih. Bener gak tuh mutiara laut?”

“Di sertifikatnya sih iya.”

“Barang mahal tuh, Tas. Dijaga baek-baek.”

“Udah ah. Balik ke meja lo sono. kerjaan gue numpuk.”

“Iya deh iya. Cie ntar lagi statusnya gak jomblo lagi nih.” Mbak Ratih kabur dari hadapanku.

Apa maksud Dimas tadi ya? Pake perhiasan ini nanti pas dia ke rumah? Hm….Ah sudahlah. Ngapain juga dipikirin. Aku menyimpan kembali mutiara ke dalam tempatnya dan memasukkannya ke dalam tasku. Back to work.

XXX

NOTE: Get the complete chapter on menu bar, or by clicking this link: Tassa Dimas Life as A Couple

IG: @novelbyviedyana

SuKa dengan artikel ini? Yuk, bagikan!

Viedyana

Emak dari tiga bocah kecil, domisili di Mataram, Lombok. Suka jalan-jalan, icip-icip makanan, dan menulis. Ada yang ingin ditanyakan atau bekerjasama untuk review usaha, produk dan lain-lain silahkan kontak vidya.nafsil@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *