Di Antara Taat dan Cinta: Percakapan Penting di Tengah Malam

Di Antara Taat dan Cinta: Percakapan Penting di Tengah Malam

1

PERCAKAPAN PENTING DI TENGAH MALAM

Akhir pekan kali ini Luthfi memutuskan pulang ke rumah ibunya. Malam kian larut. Aisyah dan Daud, dua orang adik Luthfi sudah tidur nyeyak di kamar masing-masing sedari tadi. Di ruang keluarga hanya tinggal Luthfi yang sedang membaca buku sambil menemani ibunya, Bu Sarah, yang sedang berkosentrasi penuh mengerjakan pembukuan toko.

“Kenapa tidak tidur, Fi?”

“Udah lama enggak temenin Ibu bikin pembukuan toko.”

Bu Sarah tersenyum. “Bisa saja kamu, Fi. Baru dua bulan yang lalu kamu genap satu tahun pindah , Fi”

“Tapi rasanya sudah lama sekali, Bu.”

“Sebentar lagi Ibu selesai, Tak mengapa kalau kamu ingin tidur duluan.”

“Tidak apa-apa, Bu. Fi tunggu Ibu hingga selesai.”

“Adakah yang ingin kamu bicarakan dengan Ibu, Fi?”

Deg! Hati Luthfi berdesir. Anak panah melesat cepat tepat mengenai sasaran. Ibu benar sekali. Ibu selalu mengerti apa yang aku inginkan. Batin Luthfi.

“Hm…hm….”. Lamat-lamat Luthfi berpikir, mencari rangkaian kata yang tepat untuk memulai pembicaraan.

“Ada masalah apa, Fi? Sepertinya berat sekali.”

“Hm..ingatkah Ibu dengan kejadian dua tahun yang lalu?”

Bu Sarah berhenti  menulis . Ia memutar arah duduknya. Tepat di depan Luthfi. “Kamu ingin menikah, Fi?”

Luthfi terdiam. Kepalanya menunduk. Kini ia bagaikan anak kecil yang baru saja tertangkap basah melakukan sebuah kesalahan besar. Ibu masih mengingat semuanya dengan sangat baik.  Batin Luthfi. Seketika perasaan takut datang. Luthfi sangat takut jika ia melukai hati ibunya.

“Ridhakah Ibu?” tanya Luthfi pelan.

“Kamu sudah mengkhitbah anak orang, Fi?”

“Tidak Bu. Belum.  Justru sekarang Fi mau minta pendapat Ibu.” Ujar Luthfi. Insya allah tidak akan terjadi pengkhitbah-an tanpa izinmu, Bu. Batin Luthfi.

“Kalau begitu, kamu sudah punya calon?”

“Ya, Bu.”

“Siapa?”

“Temen kuliah Fi, Bu.”

“Putri Pak Hasan?”

Luthfi menunduk. Oh ibu, tanpa harus bercerita panjang lebar ibu bisa menebak semua dengan benar.

“Kamu masih berkomunikasi dengan pak Hasan?”

“Tidak sesering dulu seperti waktu awal-awal kenal, Bu. Terakhir berkomunikasi dua bulan yang lalu. Bertemu di rumah pak Ilham. Sama-sama melayat ketika istri pak Ilham meninggal.”

“Pak Hasan sudah tahu kamu berniat hendak melamar putrinya?”

“Belum sama sekali, Bu. Jika Ibu Ridha, insya allah Fi akan hubungi  pak Hasan.”

Bu Sarah menghela nafas panjang. Ia berusaha untuk menenangkan hati dan pikirannya. Rasanya seperti baru menyelesaikan lari marathon 1 Km. Lelah. Tak bertenaga. “Apakah sudah kamu pikirkan semua ini dengan matang, Fi? Sudahkah mencoba untuk sholat istikharah?”

“Insya Allah sudah, Bu. Satu bulan terakhir hampir tiap malam Fi sujud kepada-Nya, Bu. Mohon petunjuk-Nya. Hati ini tidak tenang sejak dua bulan yang lalu.”

“Dua bulan yang lalu?”

“Ya, Bu. Pulang dari rumah pak Ilham.”

“Apakah saat itu pak Hasan memintamu untuk menjadi menantunya lagi?”

“Tidak, Bu. Sama sekali tidak. Tidak sedikit pun pak Hasan menyinggung tentang pernikahan. Bahkan menyinggung tentang putrinya pun tidak Bu. Kami hanya berbincang sebentar. Niat menikah ini murni dari keinginan Fi, Bu.”

Sekali lagi Bu Sarah menghela nafas panjang. Bu Sarah menjadi teringat karakter mendiang suaminya yang sama persis dengan Luthfi anak sulungnya. Pemikir, tegas, keras, namun memiliki hati yang lembut.

“Bolehkah Ibu berpikir sejenak tentang semua ini, Fi?”

“Tentu, Bu. Tentu saja. “

Seutas senyum mengambang di wajah bu Sarah. Luthfi lega melihat senyuman manis ibunya.

“Oh ya Bu, besok Fi juga ingin berdiskusi tentang ini dengan Pakde Anto dan Pakde Iman. Bagaimana menurut ibu?”

“Ya, sebaiknya begitu. Ibu baru saja  ingin mengingatkanmu untuk menemui mas Anto dan mas Iman.”

Luthfi  menidurkan kepalanya dipangkuan bu Sarah. Belaian lembut tangan seorang ibu memang tidak akan lekang oleh waktu. Walau kulit tak lagi semulus waktu ibu masih muda, namun rasa belaian itu masih sama.  Ketika Luthfi hendak memejamkan matanya, bu Sarah menyuruh Luthfi untuk tidur di kamar. “Sebentar saja,Bu. Bolehkah?”

Bu Sarah terus membelai lembut  kepala  Luthfi.

XXX

Luthfi sudah pindah ke kamarnya. Bu Sarah juga beranjak ke dalam kamarnya. Di kamar, bu Sarah duduk bersandar di kepala tempat tidur. Beristighfar di dalam hati. Bu Sarah tidak bisa memejamkan mata. Lampu meja  yang temaram menjadi teman sebelum tidur.  Kejadian ini sama persis dengan kejadian dua tahun tahun yang lalu. Masih dengan pemeran yang sama. Bu Sarah sadar permintaan Luthfi hanya masalah waktu saja. Tapi kini kenapa rasanya ia tidak siap harus berbagi Luthfi dengan wanita lain. Luthfi, anak sulungnya yang begitu tegar, tangguh dan sabar menghadapi cobaan hidup.  Luthfi yang mampu menggantikan peran ayahnya untuk kedua adiknya. Luthfi yang mampu menjadi teman dirinya untuk bertukar pikiran, berdiskusi permasalahan hidup.

Apakah ini memang sudah waktunya Luthfi untuk berumah tangga? Membina sebuah kelurga kecil? Hamba memohon petunjuk-Mu ya Allah. Batin bu Sarah.

XXX

Mataram, 28 Oktober 2018

SuKa dengan artikel ini? Yuk, bagikan!

Viedyana

Emak dari tiga bocah kecil, domisili di Mataram, Lombok. Suka jalan-jalan, icip-icip makanan, dan menulis. Ada yang ingin ditanyakan atau bekerjasama untuk review usaha, produk dan lain-lain silahkan kontak vidya.nafsil@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *