Pantai Nipah, Pagi Dan Pelajaran Hidup

Pantai Nipah, Pagi Dan Pelajaran Hidup

Bismillah.

Assalamualaikum. Jumat, (5/4/19), di sebuah pagi yang berawan. Hanya butuh waktu kurang dari satu jam dari kota Mataram, saya dan keluarga sudah tiba di pantai Nipah, sebuah pantai  melengkung yang terletak di dusun Nipah, Malaka, Lombok Utara. Ini adalah kedatangan saya yang pertama sejak peristiwa gempa yang beruntun di tahun 2018 kemarin. Pantai ini masih terlihat  sama di mata saya. Pondok-pondok sederhana yang berderet di pinggir pantai masih berdiri di sana. Tampak tiada beda dengan kedatangan saya sebelum tragedi gempa mengguncang Lombok.

Menyusuri satu demi satu, deretan pondok-pondok itu masih sepi. Saya maklum akan hal ini. Hari masih masih sangat pagi  untuk bermain di pantai. Waktu menunjukkan pukul delapan kurang ketika mobil memasuki area pantai.  Selain itu hari ini adalah hari Jumat.  Satu hari menuju akhir pekan, jadi wajar jikalau sepi. Sepanjang pengetahuan saya, pantai ramai dikunjungi di sore hari atau di akhir pekan, hari Sabtu dan Minggu.

Kami berhenti ketika melihat ada aktivitas di salah satu pondok. Ikan Bakar Pak Udin. Begitu tulisan di palang nama di depan warung yang saya dan keluarga masuki. Beberapa ibu-ibu tampak sedang mempersiapkan bahan-bahan makanan untuk diolah. Di bagian dapur yang terbuka saya melihat tumpukan bawang putih, bawang merah, kangkung dan bahan mentah lainnya. Warung ini baru bersiap untuk menjemput rezeki di hari ini.  Saya dan keluarga dipersilahkan untuk memilih berugak yang ingin di tempati.  Saya meminta izin untuk menggunakan berugak yang langsung menghadap ke pantai. Senangnya melihat salah satu pekerja di warung pak Udin menyapu pantai. Sampah-sampah dipunguti kemudian dimasukkan ke dalam kotak sampah.

Jadi saya dan keluarga ngapain aja pagi-pagi udah sampe di pantai?

Sarapan Pagi

Sarapan pagi. Inilah hal pertama yang saya dan keluarga lakukan ketika tiba di pantai. Dari rumah sudah diniatkan untuk sarapan di tepi pantai. Ketika semua anggota keluarga sudah duduk di berugak, satu persatu mengambil jatah sarapan paginya berupa nasi campur khas Lombok.  Nasi ini harganya lima ribu rupiah. Tapi walau harganya murah meriah, sangat cukup bagi saya sebagai sarapan pagi. Nasi campur ini isinya lengkap ada nasi, sayur dan lauk pauk dan tidak lupa sambal. Untuk minumnya saya memesan beberapa gelas teh manis hangat di warung Ikan Bakar Pak Udin. No place for free lah ya. Ibunya udah baik banget juga mau pinjemin berugak tempat duduk. Hehe.

Berenang di Laut

Aktivitas yang satu ini adalah favorit bocah-bocah saya. Pagi itu mereka niat banget enggak mandi dari rumah. Bajunya pun masih memakai baju tidur. Berangkat dari rumah hanya sikat gigi dan minum air putih. Tapi di mobil ngemil roti sedikit. Hehe.

 Oleh karena pantai Nipah ini landai, dan ombaknya pun tidak besar, hati ini sedikit tenang melepas anak-anak yang melesat menyambut riak air laut yang maju mundur menggapai bibir pantai. Melihat senyuman di wajah bocah hati emak udah bahagia. That simple. Kali ini gadis kecil saya, Nadya, pantang ketinggalan. Ia mengikuti para masnya yang berlari ke arah laut. Eits, walau judul pantainya adalah landai, tetep ya anak-anak  harus diawasi.

Membuat Benteng Pasir

Baiklah, setelah nyebur di laut dan baju basah semua, anak-anak bolak balik ke bibir pantai. Apalagi jika bukan membuat benteng dari pasir. Tanpa perlengkapan pendukung seperti sekop, ember dan lainnya, bocah-bocah saya ini hanya mengandalkan kedua tangannya untuk berkreasi. Cocok banget deh sama emaknya yang ogah ribet bawa-bawa ember mainan, sekop dan semacamnya. Cukup hanya membawa baju ganti, sabun, sampo, dan handuk saja. Hahaha.

“Ayo Ama, kita bikin benteng kayak waktu sama inyik.”

Huhu dan emak pun terharu mendengar ucapan bujang yang besar kepada adiknya. Dulu-hari-hari menghabiskan waktu di pantai bersama papa saya rahimahullah yang biasa dipanggil inyik oleh cucunya, bocah-bocah ini sering sekali membuat benteng-benteng pasir. Terkadang di tambah hiasan-hiasan kerang yang banyak terdampar di pantai. Ya..ya..ya.. you will always be remembered Inyik.

Berjalan Menyusuri Pantai

Aktivitas berjalan menyusuri pantai adalah aktivitas favorit emak macam saya yang demen piknik ke pantai namun berusaha untuk stay dry. Adakah yang satu tim dengan saya???Wkwkwk.

Di pantai saya senang melihat para pemilik dan pekerja di warung-warung yang sedang membakar ikan atau aneka seafood. Tidak peduli dengan asap yang membuat mata pedih. Selain itu mata ini juga senang berkeliling mencari mamang-mamang pedagang yang mangkal beberapa saat saja. Ada mamang yang jual rujak, cilok, dan pentol bakso dan lain-lain. Tetep ya, makanan! Hahaha.

Eh tapi piknik pantai kali ini jauh dari kegiatan-kegiatan di atas. Maklum masih pagi. Nelayan saja baru pulang melaut. Jadi saya hanya berjalan menyusuri pantai untuk memanjakan mata dengan memandangi laut yang tak bertepi, menghirup udara laut yang segar, memperhatikan aktivitas-aktivitas orang di pantai dan juga memperhatikan kapal nelayan satu persatu menyongsong bibir pantai kemudian turun membawa beberapa karung ikan hasil melaut.  Huuu, ikan-ikan itu pasti masih segar sekali. Saya jadi membayangkan makan ikan bakar yang segar. Yummi. Yoaaa, balik lagi ke makanan. Tiada hari tanpa makanan. Hahah

Memunguti Serpihan Karang dan Cangkang Kerang

Karang-lebih tepatnya serpihan-serpian karang. Sepanjang ingatan saya, pantai Nipah ini tidak seperti pantai Sire yang banyak berserakan patahan-patahan karang. Pantai Nipah ini cenderung bersih dari yang namanya muntahan karang dari dalam laut. Entah sejak kapan serpihan karang bertebaran di banyak tempat di sepanjang pantai Nipah ini.

Serpihan-serpihan karang ini bentuknya tidak beraturan dan  unik. Terkadang saya senang memunguti beberapa serpihan untuk dibawa pulang. Pun begitu pagi ini, sambil menyusuri pantai, mata ini bergerilya mencari serpihan karang di antara pasir pantai yang disapu air laut berulang kali.

Namun hasil pagi ini sedikit berbeda daripada biasanya. Tidak sengaja saya menemukan cangkang kerang. Itu lho biji yang biasa digunakan untuk bermain congklak. Bermain congklak adalah salah satu hobi saya waktu kecil selain bermain bola bekel. Ayooo, siapa yang waktu kecil juga hobi bermain congklak? Awalnya saya hanya menemukan satu cangkang kerang, dan setelah itu saya menemukan lagi, lagi dan lagi. Ternyata banyak saudara-saudara. Ada yang besar dan ada yang kecil. Namun pagi ini saya lebih banyak menemukan yang kecil. Oleh karena menemukan cangkang kerang ini di saat-saat terakhir bermain di pantai, jadi hanya bawa segenggam saja untuk dibawa pulang ke rumah. Lumayan, bisa buat main bola bekel sama Nadya, gadis kecil saya. Hahaha.

Main Ayunan

Ayunan. Akhir-akhir ini ayunan di tepi pantai lagi nge-hits saudara-saudara. Tengoklah foto ayunan yang diunggah ke dunia maya, mungkin jumlahnya ribuan buah foto. Ada ayunan yang tidak tersentuh air laut, namun ada juga yang letaknya sedikit menjorok ke laut.

Di pantai Nipah ini juga terdapat ayunan yang terletak di beberapa tempat di sepanjang pantai. Ayunan sederhana dari bambu, tali tambang dan papan. Ada juga yang tempat duduknya dari ban bekas. Hm…Bayangkanlah menyaksikan sang surya kemerahan di batas mega sambil main ayunan. Tentunya menyenangkan.

 Pagi ini saya juga sempat bermain ayunan sebentar, sambil memandangi riak air laut, menghirup segarnya udara di pantai dan tentunya memperhatikan anak-anak yang asyik bermain pasir dan juga air laut.

Duduk di Tepi Pantai

Kegiatan yang satu ini sudah pastilah ya. Saya suka duduk di pasir yang kering namun di tempat yang tidak terlalu panas. Kurang suka berjemur ala-ala bule. Harap maklum, warna kulit sudah eksotis, enggak butuh dengan tanning. Hahaha.  Selain itu bisa juga duduk santai memandangi laut dari berugak yang langsung menghadap ke laut. Bagaimana dengan kamu?

Pelajaran Hidup

Dan yang terakhir adalah sebuah pelajaran hidup. Pelajaran hidup yang begitu mengena di hati saya. Seperti kita semua tahu bahwa tahun kemarin pulau Lombok dihantam gempa bertubi-tubi. Begitu banyak yang kehilangan keluarga, harta benda, hingga pekerjaan. Ada yang mampu bangkit, namun banyak yang mulai kembali dengan tertatih-tatih. Bagaimana pun hidup harus terus berjalan.

Semua sudah selesai bermain di pantai. Satu persatu anggota keluarga saya mengantri kamar mandi di dekat warung pak Udin. Ketika sedang mengantri, datanglah seorang ibu bertanya berkali-kali berapa orang yang mandi, berapa orang anak-anak, berapa orang dewasa. Saya menjawab jumlah anggota keluarga saya yang ikut mandi di kamar mandi tersebut. Karena belum selesai dan kebetulan saya juga tidak membawa uang untuk membayar kamar mandi, saya memberitahu ibu tersebut bahwa saya akan membayar setelah semuanya selesai. Sang ibu pun mengiyakan. Sekilas saya memang melihat ada yang berbeda dengan mata ibu tersebut. Namun kemudian ibu itu beranjak pergi setelah saya memberikan jawaban yang sepertinya cukup memuaskan baginya. Setelah itu saya kembali sibuk dengan tiga bocah yang sudah selesai mandi.

Urusan bilas membilas badan selesai. Kini saatnya membayar semua tagihan. Saya mendatangi ibu di warung pak Udin untuk membayar minuman hangat yang saya pesan tadi. Dan mengalirlah sebuah cerita tentang ibu yang berkali-kali bertanya tentang berapa orang yang menggunakan kamar mandi. Ibu tersebut tidak bisa melihat.

“Nanti ketika membayar langsung diberikan ke tangannya saja, Mbak.” Begitu ujar Ibu di warung pak Udin.

Deg! Hati ini langsung berdesir. Mengingat kembali kejadian beberapa saat tadi. Pantas saja ia bertanya berkali-kali. Dan saya mengikuti apa yang dianjurkan oleh ibu di warung pak Udin tadi. Selalu salut melihat perjuangan seseorang dengan sebuah perbedaan. Hilangnya fungsi mata tidak menyurutkan langkahnya untuk keluar rumah menjemput rezeki. Selalu ada jalan bagi orang-orang yang mau berusaha. Semoga selalu dimudahkan dan dilancarkan, Bu!.

Mataram, 22 April 2019

Salam

SuKa dengan artikel ini? Yuk, bagikan!

Viedyana

Emak dari tiga bocah kecil, domisili di Mataram, Lombok. Suka jalan-jalan, icip-icip makanan, dan menulis. Ada yang ingin ditanyakan atau bekerjasama untuk review usaha, produk dan lain-lain silahkan kontak vidya.nafsil@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *