RoadTripMbokJastra # 14: Meninjau Maninjau dari Puncak Lawang

RoadTripMbokJastra # 14: Meninjau Maninjau dari Puncak Lawang

Assalamualaikum,

(11/11/17) Hari sudah siang, tapi pengen jalan-jalan. Nah lho! Ngelist tempat wisata yang tidak terlalu jauh dari rumah nenek saya, dan pilihan pun jatuh ke lokasi pre-weddingnya teteh Bella dan kang Emran. Hayooooo, yang mana?


Maninjau, pernahkah mendengar kata ini? Ya, Maninjau adalah sebuah nama danau yang terletak di kabupaten Agam. Danau Maninjau menjadi salah satu destinasi wisata andalan propinsi Sumatra Barat.  Tidak hanya turis lokal, turis mancanegara pun banyak lho yang melancong ke sini.

Perjalanan kali ini bukan melipir ke tepi danau Maninjau, tapi ke puncak bukit dimana danau Maninjau terlihat dari atas. Sebuah puncak bukit yang kemaren sempet ngehits menjelang pernikahan ateu Bella, yaitu Puncak Lawang. Masih pada inget gak? Oh ya, puncak Lawang ini adalah titik tertinggi dari bukit-bukit yang mengelilingi danau Maninjau.

My Way to Get There, First Alternative
Puncak Lawang! Sebelum berangkat berdiskusi dulu dengan dengan papa saya a.k.a inyik Adha, sebaiknya jalan mana yang oke untuk ditempuh. Kalo dari rumah nenek saya, jalan lewat Ngarai Sianok lebih dekat dibandingkan lewat Padang Lua. Baiklah, pak suami ikutin saran inyik Adha.

Pak suami saya memacu mobil ke arah pertigaan ateh ngarai, jalan Binuang. kemudian menurun tajam ke batang air Sianok. Menyusuri sungai hingga ke jembatan yang menghubungkan desa Lambah dengan desa Jambak. Mobil mendaki tajam menuju desa Jambak yang berada di atas tebing.

Pemandangan di atas jembatan yang menghubungkan Lambah dengan Jambak

Dari Jambak perjalanan berkelok-kelok tiada henti, dari desa ke desa. Sebutlah  Sungai Jariang, Matur hingga Puncak Lawang. Jalannya agak kecil khas jalan pegunungan, sudah aspal namun di beberapa tempat jalannya jelek. Harus ekstra hati-hati. Gak bisa ngebut.  Namun gak usah khawatir, pemandangan sepanjang jalan dijamin enggak ngebosenin. Hijaunya pepohonan berpadu dengan birunya langit dan putihnya awan, cantiiiiiik.

Oh ya, walau berstatus urang minang, boleh percaya boleh enggak, ini adalah jalan-jalan pertama saya ke Puncak Lawang lho. Biasanya ke Ambun Pagi kalo mau liat cantiknya Danau Maninjau dari atas.
Setelah memasuki desa Lawang, mobil terus menanjak hingga terlihat deretan huruf di punggung bukit yang bertuliskan Puncak Lawang. Mendekati puncak, deretan pohon pinus menjulang tinggi.


Ups, ternyata sedang ada pembuatan bangunan di Puncak Lawang ini. Entah hotel, entah rumah makan. Semoga bisa singgah ke mari di edisi pulang kampung berikutnya. #Ngarep.

Puncak Lawang Bagai Negeri di Awan
Menjejakkan kaki di Puncak Lawang dengan berdiri di tepi bukit memandangi tenangnya air danau Maninjau di bawah sana. Langit sedikit berawan sore itu. Mendung namun tidak hujan. Angin bertiup sedikit kencang. Brrrr dingin. Berharap pada sinar matahari untuk menghangatkan badan, namun sayang sinar matahari terhalang oleh awan. Hanya bersinar di sedikit bagian di atas danau.

Namun gradasi warna yang tercipta sore itu sungguh cantik. Warna abu metalik berpadu dengan abu-abu gelap di permukaan danau, kemudian warna hijau terang mendominasi di sekeliling danau. Naik sedikit ke atas warna hijau tua mengelilingi danau bagaikan benteng yang kokoh menjaga danau Maninjau.

Dan di atas danau, awan mendung bergelayut manja. Tiupan angin membuatnya berarak cepat ke arah Puncak Lawang. Seketika putih menyergap , kabut. Jadi serasa berada di negeri awan. Sekeliling mata melihat hanyalah putih. Cukup lama. Ah, saya jadi keingetan foto-foto prewedding uni Bella dan uda Emran. #Ihiiy semoga gak ada yang baperlah ya baca paragraf ini. Hahaha.

Tiupan angin akhirnya membuat kabut beranjak juga dari Puncak Lawang. Danau kembali terlihat. Tapi angin dingin tetep menjadi teman setia sore itu.

Oh ya, bagi teman yang seneng dengan olahraga Paralayang, di Puncak Lawang ini juga bisa lho. Kalo saya jangan ditanya atuhlah. Demen liatnya aja. Hehehe.

Setelah puas berdiri di Puncak Lawang, Saya dan rombongan turun dari puncak bukit. Tidak jauh dari gerbang masuk Puncak Lawang pak suami melihat warung-warung di tepi jalan. Tetep, danau Maninjau menjadi objek utama untuk dilihat.

Ada beberapa warung. Saya dan rombongan duduk di warung uni yang menjual jagung bakar. Hm…kesukaan pak suami saya deh jagung bakar. Eh tapi, di sini juga ada pisang kapik lho. Saya memilih untuk pesen pisang kapik aja deh. Murmer pula dibandingkan pisang kapik di Bukittinggi. Sepuluh ribu dapet tiga pisang. Ihiiiy.

Baca juga: RoadTripMbokJastra#6: MUST TRY Menjajal Kuliner Khas Ranah Minang Part 1

Hawa yang dingin itu bikin laper. Setuju gak teman? Setuju aja lah ya! Di sebelah warung uni yang jual jagung bakar ini ada sate bumbu daging ayam. Sambil menunggu pisang kapik jadi, yuk mari pesen sate dulu. Yummi…..ditemani dengan segelas teh hangat atau secangkir kopi hitam panas. Semakin lengkap deh kenikmatan sore itu.

Another Way to Get Home

Hari semakin sore. Gelap mulai menyapa. Jalan pulang ke rumah lagi-lagi akan melewati jalanan khas pegunungan. Uni yang jual pisang kapik menyarankan untuk lewat jalan Raya Padang Lua – Maninjau. Jalanan lebih ramai dan lebih besar dibandingkan lewat Sungai Jariang, Jambak, Lambah. Baiklah. Noted.

Bye Maninjau, bye Puncak Lawang, see you next time!

 

Salam

 

Vidy

SuKa dengan artikel ini? Yuk, bagikan!

Viedyana

Emak dari tiga bocah kecil, domisili di Mataram, Lombok. Suka jalan-jalan, icip-icip makanan, dan menulis. Ada yang ingin ditanyakan atau bekerjasama untuk review usaha, produk dan lain-lain silahkan kontak vidya.nafsil@gmail.com

6 thoughts on “RoadTripMbokJastra # 14: Meninjau Maninjau dari Puncak Lawang

  1. Duh.. saya kangen banget Bukittinggi.. cakep pemandangannya, lezat kulinernya..mantap banget.. baca postingannya jadi pengen lagi jalan2 kesana lagi.. belum sempat ke Danau Maninjau nih. Mdh2an kelak bisa ya.. ngarep.. makasih ya postingannya…

    1. Di Bukittinggi disebutnya nasi kapau, Mbak. N kalo satenya yaitu sate daging bumbu. bedanya sama sate padang biasa yaitu di daging sate di Bukittinggi itu kayak ada bumbu kelapa nempel-nempel dikit di dagingnya. maknyuuuuus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *