Yuk, Membaca Buku dengan Suara Nyaring!!!

Assalamualaikum,

Gemar membaca. Orang tua mana seh yang enggak seneng lihat anak-anaknya senang membaca buku? Setuju ya, Teman? Alhamdulillah kebiasaan membaca sudah mulai saya tanamkan sejak anak pertama, Mas Adha. Dulu walau mas Adha belum bisa membaca, saya dengan senang hati membacakan buku setiap hari untuk mas Adha. Bukunya buku-buku sederhana saja. Hurufnya besar-besar dan jumlah halamanya juga tidak terlalu banyak. Bagaimana dengan teman-teman sekalian??

Belajar Membaca

Kemampuan membaca Mas  Adha meningkat dengan pesat di minggu-minggu terakhir masa belajarnya di TK B. Seringkali ia bertanya tentang rangkaian huruf di kartu baca yang sudah saya beli sejak Mas Adha berumur  kurang dari satu tahun. Padahal selama ini kartu-kartu baca tersebut dicuekin banget. Bahkan dua tumpuk kartu baca tersebut pernah menjadi penghuni gudang beberapa tahun karena enggak kepake.  Emak masih berharap suatu saat nanti kartu –kartu tersebut akan berguna. Iseng dikeluarin lagi ketika mas Adha udah belajar setengah tahun di TK B. Alhamdulillah kali ini dia berminat lihat kartu-kartu itu. Kala itu enggak pake sistem-sisteman. Jadi saya cuma kasih tau kata yang ditanyakan aja.

Saya tidak pernah memaksakan Mas Adha sudah harus bisa baca sebelum masuk SD. Di saat teman-teman Mas Adha malah diikutkan les baca oleh orang tuanya, alhamdulillah saya tidak tergoda dan tetap dengan pendirian saya: TIDAK ADA LES UNTUK BISA MEMBACA.

Jadi Gemar Membaca

Hari-hari menjadi anak sekolah dasar dimulai. Saya dan suami akhirnya sepakat memasukkan mas Adha di sekolah yang lebih mengkhususkan anak untuk lebih menghafalkan Al-quran dan hadist. Jadi mata pelajarannya lebih banyak yang berkaitan dengan pendidikan dasar islam seperti aqidah, fikih, akhlak. Tidak ketinggalan pelajaran tentang siroh islam.

Mas Adha seneng banget baca tentang siroh islam ini. Awalnya ia jadi sering banget ngulang-ngulang baca buku paket sirohnya. Eh tapi kemudian minta beliin buku-buku lainnya yang berkaitan dengan  sejarah-sejarah islam. Sebelumnya saya lebih sering membelikan buku-buku pengetahuan umum saja untuk mas Adha dan adik-adiknya.

Emak dengan senang hati dong browsing-browsing kemudian mengajukan budget beli buku anak ke pak suami. Adalah Widya, salah seorang sahabat saya,  mengrekomendasikan buku cerita anak terbitan Perisai Quran kepada saya. Berhubung udah jarang melipir ke toko buku, akhirnya saya beli online deh buku ceritanya.

Awanya cuma beli empat buku, yaitu tentang superheronya islam Khalid bin Walid,  Perang Badar, Ayo Belajar Sholat, dan Ayo Belajar Bersuci.

Emak mau taste the water dulu, duo bujang tertarik atau enggak dengan buku-buku tersebut. Alhamdulillah, duo bujang kecil saya seneng banget baca buku  anak terbitan Perisai Quran. Terus jadi repeat order deh beli buku cerita anak lainnya, seperti Amer bin Ash, Pembebasan Kota Makkah, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar ash Shiddiq, Perang Tabuk, Perang Khaibar, Perang Uhud, dan Perang Khandaq. Next request duo bujang kepada bapaknya adalah buku-buku tentang para imam, seperti imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud dan lain-lain.  Eh tapi, ini bukan iklan lho ya. Murni dari hasil pengamatan saya melihat anak-anak yang seneng dengan buku-buku terbitan Perisai Quran.

Buku dengan soft cover itu….

Isi buku anak terbitan Perisai Quran full color, gambarnya menarik, komposisi warnanya juga oke. Tulisannya cukuplah untuk ukuran anak SD. Enggak terlalu besar, tapi juga engak terlalu kecil. Walau buku-buku ini tidak  hard cover, alhamdulillah masih oke untuk dibaca. Wujudnya masih  utuh. Belom sobek sana sini. Emak jadi sumringah. Bahagia.

Saya punya cerita tersendiri tentang buku-buku yang soft cover. Sempet kapok beli karena usianya di rumah sebentar aja. Enggak pake lama buku-buku tersebut udah sobek sana sini yang akhirnya berakhir di tong sampah. Hiks. Jadi setiap beli buku saya lebih prioritaskan yang hard cover.

Waktu sebelum pesen buku-buku ini saya coba kasih wejangan lagi sama mas Adha. Untuk kesekian kalinya kami berdiskusi disaksikan dengan mas Rama, adik Adha. Yup, emak enggak patah semangat untuk terus mencoba.  Enggak peduli udah puluhan kali gagal untuk yang satu ini.

“Buku sejarah islamnya dirawat yak, Nak. Jangan kayak buku-buku ceita sebelumnya. Kalo bukunya rusak, kita jadi gak bisa baca lagi tentang siroh islam. Bunda udah cari sana sini, tapi belum nemu yang kertasnya tebel-tebel.”

Sebuah anggukan dan senyuman menjadi penawar keraguan saat itu. Tidak hanya mas Adha, sebuah anggukan dan senyuman juga saya dapatkan dari mas Rama. Akhirnya bismillah untuk pesen buku soft cover.

Buku-buku soft cover alhamdulillah awet euy. Seneeeeeng.  Tiada hari tanpa membaca buku. Bahkan dedek Nad juga suka ikutan baca buku. Ikutan nimbrung mas-masnya kalo baca buku. Bahagianya emak sederhana. Liat kayak gini aja udah seneng kayak dapet segepok uang. Hahaha.

Read it, please!

Buku cerita yang sering dibaca mas Adha kini sudah berbeda. Bukan lagi buku cerita yang hurufnya besar-besar. Bukan lagi yang jumlah barisnya paling banter dua atau tiga baris. Bukan lagi buku cerita yang jumlah halamannya sepuluh atau lima belas halaman saja.

Buku cerita mas Adha kini sudah naik level. Ia kini lebih gemar membaca siroh islam yang memang pas banget dibaca anak SD. Buku cerita yang hurufnya lebih kecil. Jumlah baris per halamannya lebih dari tiga baris. Jumlah halaman yang lebih banyak, bahkan ada yang mencapai halaman empat puluh. Namun tetep buku ini dilengkapi dengan gambar-gambar yang mampu memikat anak untuk senang membacanya terus menerus.

Satu tantangan telah terlewati. Bukan hidup namanya jika tidak ada tantangan berikutnya, bukan?? Entah kenapa akhir-akhir ini mas Adha jadi sering minta dibacakan buku. Satu kali dua kali saya bacakan. Eeee tapi intensitas per harinya jadi berkali-kali. Belum lagi bacain buku untuk adeknya. Hm..sering-sering capek juga ya membacakan buku dengan jumlah baris dan halaman yang lebih banyak. Plus suara kenceng. Fuih! Could you imagine, he asked me to read three books in one time and it could be three times in a day? Dududu.

Awalnya ada saja alasan saya supaya mas Adha membaca sendiri atau membujuknya untuk membacakan buku untuk adik-adiknya. Tapi sepertinya cara saya kurang kreatif. Akhirnya malah mutung dan emak dengan berat hati membacakan. Elus-elus dada, semangaaaat, demi anak. Puk..puk…puk…

Jika saya punya taktik, begitu juga dengan bujang kecil ini. Duilaaaah, ampoooooon. Udah kayak perang aja kan pake strategi-strategi segala. Jika permintaan membaca buku dengan suara nyaring ini enggak lolos membujuk rayu  saya, maka duo bujang kecil ini beralih kepada bik Ani, ART yang membantu saya mengurus tiga bocah kecil ini.  Taraaaaaaa mbak Ani iya-iya aja bacain buku. Tidak sekali dua kali saya mendengar suara mbak Ani jadi serak ketika sedang membaca buku yang kesekian. Suara mbak Ani yang serak adalah hasil bujuk rayu duo bujang kecil saya, bikin saya enggak enak hati dengan mbak Ani. Oh ya soal panggilan untuk mbak Ani ini memang berbeda antara saya dengan bocah-bocah kecil. Saya menyapa dengan panggilan mbak, sedangkan bocah-bocah dengan panggilan Bik. Bik ini singkatan dari bibik. Mbak Ani yang meminta bocah-bocah untuk menyapanya dengan panggilan bibik.

Di kala sedang tidak bersama anak-anak beberapa kali saya memberitahu mbak Ani, untuk tidak selalu menuruti permintaan duo bujang kecil. Ditegesin aja, kalo capek ya baca bukunya entar lagi. Dengan cara ini sekalian saya ingin mengajarkan kepada anak-anak bahwa semua ada batasnya. Tidak bisa semau mereka saja.  Hm…tapi tampaknya cara ini kurang efektif.  Tetep aja saya sering denger suara mbak Ani ampe serak. Entah semua ini karena mbak Ani merasa tidak enak hati, entah karena bentuk sayangnya mbak Ani terhadap bocah-bocah ini. Maklum mbak Ani bantuin saya take care anak-anak sejak anak kedua saya berusia tiga bulan. Kini bujang kecil ini  akan genap lima tahun di pertengahan tahun ini. Jadi mereka sangat dekat dengan bik Aninya. Kami sudah seperti saudara.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saya kepikiran untuk coba diskusi lagi dengan mas Adha tentang intensitas membaca buku dengan suara nyaring ini. We made a deal. Jadi saya dan mbak Ani hanya akan membacakan satu buku satu hari dengan suara nyaring dimana waktunya terserah kepada mas Adha. Hm..ia menyetujuinya. Entahlah strategi ini akan bertahan lama atau tidak, tapi saya memilih untuk tetap mencoba sambil memikirkan strategi-strategi lainnya. Mungkin teman-teman ada yang mengalami hal yang sama dengan saya???? Share doooooong di kolom komentar tips tips dan triknya. Yuk, sharing is caring.

 

Mataram, 3 Maret 2018

 

Vidy

SuKa dengan artikel ini? Yuk, bagikan!

8 thoughts on “Yuk, Membaca Buku dengan Suara Nyaring!!!

  1. Saya juga beli flash card sejak anak masih bayi. Sekarang usianya 3 tahun dan belum terpakai. Soalnya dia masih suka melempar-lempar mainan termasuk flash cardnya. Bumu-bukunya juga banyak yang sobek. Tapi sekalinya minta dibacain buku, enggak mau berhenti. Hehe.

    1. Ihiiiy saya ada temen, jd emak rajin banget ya kita. udah beli ini itu pdhal bocahnya masih bayi…

      Disimpen dulu aja mbak, insya allah berguna kok nanti..

  2. Wah ternyata ada plus minusnya juga ya, mbak membacakan buku dengan nyaring ke anak. Kalau saya sampai sekarang masih tahap mengenalkan buku ke anak saya yang masih 1 tahun. kadang cuma diceritain aja itu buku isinya apa. alhamdulillah sekarang dia sudah mulai mengenal gambar-gambar yang ada di buku yang dibelikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *