Pencerahan bagi Para Mahmud Abas-Mamah Muda Anak Baru Satu

Assalamualaikum,
Apa kabar mama, ibu, bunda, emak, mamak dan panggilan lainnya untuk para wanita hebat yang telah bertaruh nyawa untuk melahirkan sang buah hati? Semoga semua baik-baik aja ya dan tetep semangat menjadi madrasah pertama untuk anak-anak kita tercinta.

Teman, gelar bunda mulai melekat pada diri saya kurang lebih tujuh tahun yang lalu ketika anak pertama saya lahir di bulan November 2010. Sempat bekerja setahun lebih setelah melahirkan, kemudian saya memutuskan untuk resign dan kemudian fokus mengurus sang buah hati yang mulai lincah ke sana kemari. Maklum bayi mungil ini semakin lancar berjalan. Dan fokus saya pun hanya tertuju untuknya. Perlahan namun pasti saya mulai meninggalkan hobi menulis saya, membaca novel pun sudah tidak sesering dulu. Jadwal rutin ke salon sebulan sekali pun saya coret dalam kegiatan bulanan saya. Rasanya ribet sekali, padahal baru anak satu. Hari demi hari saya sibuk sendiri, berjibaku dengan tingkah polah my baby boy. Mulai dari manjat kursi sofa, masuk kolam ikan, naik tangga melingker di rumah kami, manjat teralis jendela dan lain-lain. Batita saya ini aktif sekali. Tidak jarang saya mengeluh kepada orang tua saya yang tinggal terpisah pulau dengan saya. Mereka tetap menyemangati, saya pasti bisa mengatasi semua. Sabar…sabar..sabar. berulang kali nasehat satu ini terucap dari orang tua saya.

Hm…tujuh tahun berlalu, kini tiga amanah titipan Allah Ta’ala mengisi hari-hari saya. Oh ya, perkenalan dengan seorang blogger kece Lombok, mbak Andy a.k.a mbak Tutut a.k.a mama Rani di pertengahan tahun 2015 membuat saya mengenang kembali masa-masa saya rutin menulis di blog ataupun di note FB. Bulan Mei 2016, ketika sedang hamil besar anak ketiga, saya memutuskan untuk membuat jejak  dengan membuat sebuah  blog baru di wordpress. Masih yang gratisan. Akhir tahun 2017, saya maju selangkah lagi dengan membuat sebuah blog komersial. Domainnya masih sama dengan personal blog gratisan, hanya saja kini tidak ada embel-embel wordpress lagi. Desember 2017 saya mulai belajar lebih serius di dunia tulis menulis melalui https://viedyana.com. And now I’m wondering, ketika anak satu vakum, giliran anak tiga malah eksis menulis. What do you think teman?

Beberapa malam yang lalu, di salah satu group WA yang  diberi nama Renggo, saya dan sahabat-sahabat kece di group Renggo berbincang-bincang ringan tentang banyak hal. Salah satu topiknya yaitu tentang anak.

Beberapa komentar para sahabat yang baru memiliki anak satu membuat saya teringat hari-hari saya dulu ketika memiliki anak satu.

“Satu aja udah mau minta bantuan tim SAR rasanya, Mbak.”

“Satu aja mau aku pesantrenin ini, Mbak.”

“Ini mau coba yang kedua masih maju mundur.”

Well, sahabat, komentar “tentang rasa” di atas juga sempat saya rasakan dulu ketika masih bersatus mahmud abas- mamah muda anak baru satu. Batita pula kan. Sempet bimbang juga ketika berdiskusi dengan suami tentang  planning untuk lepas KB dan program memiliki anak kedua. Saya ragu apakah diri ini mampu. Kalo pandangan pak suami saya seh simple aja. Intinya beliau berkata bahwa “Kalo insya allah dititipkan amanah yang kedua, itu artinya insya allah kita mampu.” Wew! Tapi eh tapi…

Ya, dan tak lama berselang setelah lepas KB, Allah Ta’ala sekali lagi menitipkan amanahnya di saat si sulung berusia tiga tahun kurang dan kemudian tiga tahun berikutnya, lagi-lagi bayi mungil menambah daftar anggota di kartu keluarga. Genap tiga. Dan salah seorang sahabat di group Renggo yang baru tahu bahwa saya ngeblog merasa wow dengan apa yang saya lakukan.

Well, dari hasil bincang-bincang via group WA ini bukan hanya ketakutan “tentang rasa” akan begini begitu saja yang terlontar. Beberapa sahabat yang sudah memiliki anak lebih dari satu, termasuk saya tentunya, memberikan sedikit pencerahan bagi sahabat yang baru memiliki anak satu  bahwa memiliki anak lebih dari satu itu tidak semenakutkan rasa-rasa itu. Memiliki banyak anak justru memberikan banyak dampak positif untuk pribadi sang ibu dan bapak. Cmiiw.

Menambah pengalaman. Memiliki anak lebih dari satu tentu akan memperkaya pengalaman kita sebagai orang tua. Bukan berarti yang punya anak satu tidak kaya pengalaman ya. Ketika menghadapi anak kedua, kita sebagai orang tua statusnya udah bukan newbie lagi. Udah punya pengalaman mendidik anak pertama. Seperti halnya seorang pekerja, tentunya beda dong yang sudah memiliki pengalaman dengan yang belum. Begitu pun kita sebagai orang tua, beda dong reaksi menghadapi anak pertama dengan anak kedua. Biasanya ketika anak kedua sudah tidak sereaktif anak pertama. Lebih bisa mengendalikan diri dalam menghadapi situasi-situasi yang kurang bersahabat seperti anak mogok makan, anak tiba-tiba demam, dan lain-lain. Lagi-lagi dengan analogi seorang pekerja, pengalaman kerja satu tahun tentunya berbeda dengan pengalaman kerja dua, tiga, ataupun lima tahun. Begitu juga kita sebagai orang tua, jumlah anak yang lebih dari satu atau dua tentunya akan menambah jam terbang kita dalam mendidik anak. Jadi lebih terlatih menghadapi berbagai situasi.

Menurunkan obsesi ibu, atau bapak, atau ibu dan bapak. Biasanya neh ketika anak pertama ada ibu, atau bapak atau bahkan ibu dan bapaknya terobsesi supaya sang anak bisa melakukan ini dan itu yang terkadang belum waktunya sang anak bisa melakukan hal yang dimau sang orang tua. Tapi yang saya alami dan juga curhat beberapa teman, ketika anak kedua obsesi-obsesi itu sedikit mengendur. Bisa lebih rileks menghadapi perkembangan anak. Enggak grasa grusu. Enggak hebring dan enggak riweuh sendiri. Justru biasanya sang orang tua malah suka kaget-kaget melihat perkembangan anaknya yang sudah bisa ini itu. Apalagi menghadapi anak ketiga dan seterusnya, biasanya sudah semakin mahir mengelola obsesi dalam diri sebagai orang tua. Bebaskan aja sang anak, eeeh nanti tiba-tiba kita liat dia udah bisa aja. Kapan belajarnya ya? Belajarnya ya setiap waktu ia melihat kakak-kakaknya. Bener gak??? Jangan pernah lupa yang satu ini, yaitu bayi adalah peniru ulung. Eh tapi, walaupun sang anak dibebaskan, kita sebagai orang tua tetep harus take control atas perkembangan anak. Kalo misalkan ternyata yang ditiru adalah yang kurang baik, jangan lupa ya untuk diberitahu.
Hayo para mamak anak banyak, cmiiw ya.

Sarana belajar  orang tua untuk tidak membandingkan. Hei teman, pernahkah tidak membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain? Hayo ngakuuuuu. Minimal satu kali pernah bukan kita melakukan hal ini? Atau bahkan mungkin berkali-kali? Hm….Belum lagi jika lihat perkembangan anak orang lain kiri kanan. Entah anak teman, anak saudara, atau bahkan anak tetangga. Belum lagi membaca tentang perkembangan anak orang lain, atau mungkin liat video atau foto anak orang lain,  tidak jarang lho yang kemudian membandingkan pertumbuhan anak sendiri dengan anak orang lain. Kok anak si anu dah bisa ini ya, kok anak saya belum ya. INI TIDAK BOLEH YA, TEMAN! Melihat perkembangan anak orang lain sah-sah aja kok, tapi diambil sisi positifnya aja ya. Misalkan  tips dan trik mengatasi anak saat sedang mogok makan dan lain-lain. Setidaknya teruslah berusaha untuk belajar tidak membandingkan. Dengan memiliki anak lebih dari satu, membuat kita belajar setiap hari untuk mengendalikan diri tidak membanding-bandingkan anak. Setiap anak itu unik.

Bisa mengurangi membantu pekerjaan rumah ibu. Oh mosok? Buat mahmud abas mungkin rada-rada gak percaya neh yang satu ini. Percayalah teman, ini benar adanya. Naaah saya akan berikan sedikit gambaran sederhananya ya. Misalkan neh sang ibu harus masuk dapur untuk menyiapkan sarapan, yang saya alami neh, sang kakak biasanya dengan baik hati mau ajak adeknya untuk main bersama. Ini hanya salah satu contoh saja ya. Masih banyak yang lainnya.

Empat point di atas adalah hasil kesimpulan saya chit chat dengan beberapa sahabat. Semoga berguna ya terutama bagi para Mahmud abas yang masih bimbang atau takut untuk tambah momongan.

Bogor, 14 April 2018

Salam

 

Vidy

SuKa dengan artikel ini? Yuk, bagikan!

3 thoughts on “Pencerahan bagi Para Mahmud Abas-Mamah Muda Anak Baru Satu

  1. Iyap, suka keceplosan kadang.

    Alhamdulillah, karena sendirinya paling bete kalo sudah mulai dibanding-bandingkan, kecuali pas lomba blog dong ya, setiap ingat kalau sudah mulai mebanding2kan, masih bisa stop segera.
    Seperti idung yg ada yg pesek atau mancung, setiap orang unik dengan bawaannya sendiri-sendiri.

    Salam pagi dari Meninting ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *