Membersamai Suami Merawat Cinta

Membersamai Suami Merawat Cinta

Bismillah.

Assalamualaikum. Malam itu saya tertawa ngakak membaca sebuah postingan status di facebook milik mbak Juliana Dewi. Para blogger mah pasti hafal lah ya sama blogger hits yang biasa disapa Mbak Iwed ini. 

Cerita Kemesraan Mbak Iwed

Singkat cerita, dipostingan tersebut Mbak Iwed bercerita tentang kegiatannya bersama suami blusukan ke jalan kampung dan kemudian singgah terlebih dahulu ke toko makanan ayam untuk membeli dua macam makanan kesukaan ayam peliharaan suaminya. 

Ayo coba tebak apakah ituuuuu???

Kang Mas tercintanya Mbak Dewi beli jangkrik sama ulat jerman. Aaiiih saya langsung geli sendiri membayangkan dua makhluk hidup ciptaan Allah itu. Ku hanya suka lihat-lihat binatang, tapi tidak untuk pegang-pegang apalagi pelihara. Ngibrit duluan. Hahaha. 

Ternyata, Mbak Dewi ini sama dengan saya. Ia tidak suka juga sama dua binatang tersebut. Hm..tapiiiii, kok yo nongol foto Mbak Dewi pegang dua mahkluk itu? Gak pegang langsung sih. Si jangkrik sudah ada kandang kecil, dan si ulat sedang meliuk-liuk di dalam plastik. Salut juga saya lihatnya.

Gak suka tapi kok tetep mau ya deket-deket? Saya penasaran dibuatnya, jadi aja lanjut baca si caption yang cukup panjang itu.

Ini adalah salah satu cara yang harus ditempuh Mbak Dewi untuk merawat cintanya dengan sang Kang Mas, yaitu dengan membersamai kesukaan beliau.  

Membersamai Suami ala Saya

Setelah selesai ketawa ngakak karena membaca capion foto Mbak Dewi, saya jadi senyum-senyum sendiri ketika mengingat apa yang saya lakukan beberapa waktu lalu. Marilah kita beri judul Membersamai Suami ala Saya. #lebay.

Saya pada dasarnya tidak terlalu suka dengan yang namanya memelihara binatang. Kalau cuma lihat-lihat selintas saja tak masalah bagi saya. It’s fine.

Namun ketika saya pindah ke kota Mataram, ikut suami, rumah yang akan ditempati sudah terlebih dahulu direnovasi sebelum saya datang. Jreng..jreng..pak suami saya membuat sebuah kolam ikan di taman belakang.

Awalnya, saya tidak masalah dengan kolam ikan ini. Pak suami saya yang senang melihat ikan koi meliuk ke sana ke mari sangat rajin mengurusi kolam ikannya. Menguras kolam, membersihkan filter hingga memberi makan. Saya jadi ikutan seneng juga liat si ikan koi itu. Mereka seperti menari-nari di dalam kolam. Sambil masak liat si ikan, rasanya mata ini seger banget. 

Eh tapi berjalannya waktu, kolam ikan ini mulai tidak terurus. Pak suami saya sibuk dengan urusannya yang lain. Dan kolam ikan tidak lagi sejernih dulu. Kotorannya menumpuk di dasar kolam dan juga di dalam filter air. Ditambah dengan duo bujang saya yang seneng nguber-nguber si ikan koi di dalam kolam. Kebayang dong bagaimana kolam tersebut? Huft…ikan koi yang cantik tidak lagi terlihat okeh karena air kolam yang menghijau. 

Saya yang tidak terlalu hobi dengan binatang ya cuek saja. Saya cuma seneng lihat, tapi tidak untuk mengurus. Lagi pula itu hobi pak suami, bukan hobi saya. Jadi ya urus sendiri-sendiri lah ya. Hahaha. Jadi NO untuk mengurus si kolam ikan itu. Ditambah saya geli pegang ikan hidup. Lengkap sudah! Saya beda banget dengan anak-anak saya yang hobi pegang-pegang binatang. Ya ikan, kucing, kelinci, burung, sapi dan lain-lain. Aaaaaarrrggghhh.

Sempat terbesit untuk membongkar saja kolam ikan ini,dan kemudian dijadikan taman saja. Kalau ngurus tanaman saya suka. Hahahaha. Modus abis! Ide saya ditolak mentah-mentah oleh pak suami dan juga anak-anak. Ku jadi kesal dibuatnya. Huwaaaaa.

Yang jadi permasalahan utama kolam adalah filter yang tidak berfungsi dengan baik. Kotorannya udah menumpuk banget di dalam filter. Air keluar dari filter tetap dengan membawa kotoran. Jadi air di kolam ya gak ngaruh. Tetep kotoooor. Duuuh saya males banget kalau harus membongkar hingga ke dasar filter. Belum lagi kotoran-kotoran itu. Oh tidaaaaaak!

Sekali waktu saya sedang berbenah rak di teras depan dan menemukan sisa paranet yang pernah saya beli dulu. Tiba-tiba saja muncul ide untuk menggunakan paranet ini difilter kolam ikan.

Dan kemudian saya menguatkan niat dan tekad untuk membersihkan filter air kolam ikan. Harusnya kan pak suami yang membersihkan karena beliau yang suka ikan. Dengan menguatkan hati, batu-batu alam dan bola-bola plastik saya bersihkan, pun begitu dengan kotak filter. Setelah bersih, batu dan bola plastik saya susun kembali. Di atas bola plastik inilah saya letakkan paranet dan kemudian saya lapis lagi dengan kain lap yang tidak terlalu rapat antar benangnya.

Tadaaaa, perlahan namun pasti, air di kolam ikan jernih kembali, ikan koi yang semakin besar terlihat cantik berenang kian kemari di dalam kolam. 

Efek dari jernihnya air adalah ada kotoran yang mengendap di lap pel di dalam kotal filter. Huft tebal sekali. Dan kemudian filter air saya matikan sebentar, lalu paranet yang di atasnya ada lap pel saya bawa keluar dan kemudian disiram air. Kotoran mengalir langsung ke dalam selokan air. Paranet dan lap pel terlihat cukup bersih, dan kemudian saya letakkan kembali ke bagian paling atas filter. Jreeeeng, jadi tidak perlu membersihkan sampai ke bawah-bawah karena sudah tersaring di atas. Cukup angkat yang di atas saja.

Pak suami semringah melihat kolamnya. Dan reaksi pertama ketika melihat kolam tercinta jernih kembali adalah

“Dipakein apa itu, Bun?”

Saya dengan senang hati menjelaskan. 

“Tumben Bunda cerdas. Kenapa gak dari kemarin-kemarin?”

Saya tepok jidat mendengar komentar Pak Suami. Bukannya terima kasih…sabar…sabar, ucap saya dalam hati. 

Tapi di lain waktu pak suami berterima kasih yang sukses membuat saya berbunga-bunga. Hahaha. Lebay.

Dan sejak itu kolam jernih kembali, pak suami jadi seneng diem di dapur. Nemenin saya masak sarapan pagi. Kadang diselingi cerita ini itu. Jadi semacam quality time buat pasangan gitu. Tapi kadang direcokin bocah juga sih. Tempatnya kurang okeh banget ya, di dapur boooo. Hahaha.

Oh ya, makan pun terkadang jadi minta ngampar aja pake tiker sambil lihat ikan katanya. Padahal dari meja makan pun tetep si ikan koi terlihat meliuk-liuk. Tapi beliau bilang lebih enak kalau duduk ngampar di bawah. Lebih dekat sih memang dan tidak terhalang kaca yang menjadi pemisah dapur dan ruang makan dengan kolam dan taman belakang.

Pernah juga suatu pagi bantuin saya di dapur yang sukses membuat anak-anak kami berceloteh: “Memangnya Bapak bisa?” 

 Saya ketawa ngakak mendengar ocehan bocah-bocah. Nah rasain deh tuh anak sendiri under estimate dengan kemampuan bapaknya. Pak suami pun jadi semangat menunjukkan “Nih saya bisa lho”. Hihihi.

Inti Cerita Adalah

Nah cerita panjang di atas intinya apa ya? Tujuan akhirnya apa? Sekedar curhat? Tentu tidak. Mari kita berbagi ilmu. 

Tujuan: supaya tercipta kemesraan di antara suami dan istri

Pemicu awal dari tulisan Mbak Dewi di atas adalah pertanyaan-pertanyaan yang masuk ke inbox-nya Mbak Dewi setelah memposting fotonya berdua sang suami yang kata orang-orang itu mereka mesra. 

Hayoooo, siapa coba yang gak mau mesra-mesraan sama suami/ istri sendiri. Pastinya dong pada mau. Saya juga mau. Hahaha.

Mungkin bagi yang baru menikah, mesra di antara pasangan bukanlah perkara yan harus dipikirkan terlalu dalam. Karena biasanya orang baru menikah kan lagi mesra-mesranya. Betul tidak???

Tapi bagi yang sudah menikah bertahun-tahun menjaga kemesraan dengan pasangan menjadi sebuah tantangan tersendiri. Ada yang berhasil menjaganya, namun banyak juga yang gagal hingga, maaf, ada juga yang sampai berpisah. Hm…tentunya tidak mau yang satu ini terjadi. Harapan semua pasangan pastinya ingin grow old with you in happiness. Setujuuuuuuh????

Jadi begini, saya akan kutip sedikit tulisan mbak Dewi di-caption tersebut. jika mempunya tujuan tentukanlah dengan syarat well-formed outcome (WFO) dengan rumusan kendali ada pada diri sendiri, tidak tergantung orang lain.

Cerita di atas tujuannya “membuat pasangan suami istri mesra

Kadang suka mupeng gak sih lihat pasangan suami istri yang memperlihatkan kemesraan mereka di media sosial. Iiiiih aku juga pengenlah kayak gitu.

Kalau cuma pengen  tanpa aksi, ya terus aja hanya akan berbuah pengen. Pengen tapi berharap pasangan yang akan melakukannya, ya terus aja berharap entah sampai kapan. Hahaha.

Nah cerita di atas itu merupakan salah satu cara yang sukses membuat pasangan menjadi mesra, yaitu dengan membersamai kesukaan pasangan kita.

 Jadi bagaimana dengan kamu sekalian wahai para pasangan yang ingin mesra? Sudahkah menemukan cara yang tepat untuk membuat pasangan menjadi mesra? Boleh dooong di share di kolom komentar. Berbagi kitaaaah.

Oh ya untuk uraian lengkap tentang WFO ini, monggo meluncur langsung ke website nya mbak iwed ya di www.julianadewi.com

Saya mah masih fakir ilmu tentang yang satu itu. Hihihi

Salam Mesra yes.

Mataram, 17 September 2019

SuKa dengan artikel ini? Yuk, bagikan!

Viedyana

Emak dari tiga bocah kecil, domisili di Mataram, Lombok. Suka jalan-jalan, icip-icip makanan, dan menulis. Ada yang ingin ditanyakan atau bekerjasama untuk review usaha, produk dan lain-lain silahkan kontak vidya.nafsil@gmail.com

One thought on “Membersamai Suami Merawat Cinta

  1. Waaah…keren tulisannya mbak Viedya… keren juga mbak Viedya bisa memahani inti dari Well formed outcome, dan mewujudkannya sehingga suami jadi mesra, jadi sering menemani istrinya di dapur. So sweet❤❤❤. Lanjutkaaan kemesraannya💃💃💃

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *