JITU! Menyingkirkan Writer’s Block dengan Menyingkirkan Limiting Belief

JITU! Menyingkirkan Writer’s Block dengan Menyingkirkan Limiting Belief

Bismillah.

Assalamualaikum. Ranah tulis menulis tentunya akrab dengan istilah writer’s block. Itulah yang sedang saya alami. Ide-ide bergentayangan di dalam otak, tapi tak satu pun yang jadi dalam kumpulan kalimat yang runut dan enak dibaca. Situasi ini sungguh menyebalkan.

Dengan mempunyai blog, kebuntuan saya dalam menulis terlihat nyata sekali. Pernah dalam satu bulan saya tidak pernah posting tulisan satu pun. Padahal saya pernah mencapai empat belas tulisan dalam satu bulan. Eh hallooooo, ngapain aje sebulan. Hiks.

Seperti minggu pagi ini. Sudah pertengahan bulan. Cek cek arsip blog. Betapa menyedihkan. Masih satu postingan untuk bulan ini. Di dalam hati terus berucap: pengen nulis…pengen nulis…Tapi giliran depan laptop banyak bengongnya. #Jangan ditiru yang satu ini.

Pagi itu tiba-tiba saya teringat seorang sahabat, Lala Amalia. Walau jarang bisa bertatap muka langsung, tapi kami sering chit chat berfaedah lewat whattapps messenger. Berfaedah? Iya, berfaedah karena ada makna yang wow dalam setiap rangkaian kata di WA itu.

sumber: www.viedyana.com

Berawal dari chit chat tentang bisnis coworking place yang sedang dirintis Lala di sebelah rumah makan Yatai-nya, obrolan berujung kepada curhat saya yang lagi mengalami writer’s block. Begini kalimat ampuh Lala saat itu yang kemudian sukses membuat saya posting satu tulisan di siang harinya. Jadi meningkat dikit postingan tulisan di blog saya bulan ini. Jadi dua. #tambah tulisan ini jadi tiga. Hahaha

Baca juga: Javaspace Coworking Space, Kerja Senyaman Rumah Fasilitas Selengkap Kantor, Mau?

Begini isi nasehat Lala tersebut:

“Semangat Mbak. Dihilangin Limiting beliefnya. Dibayang-bayangin mau nulis apa…langsung sambil nulis.”

Singkat namun ampuh banget deh ngembaliin semangat saya untuk menulis. Kemudian ide-ide pun mengalir dari otak ini. Tulisan di blog ini emang baru nambah satu, tapi yang lebih amazingnya itu adalah dalam rentang enam hari saya bisa nulis sampe tiga puluh halaman for my next project yang sampe sekarang tuh selalu timbul tenggelam, yaitu nulis novel. Hehehe. Ini sesuatu yang wow untuk saya mengingat menulis itu bukan fokus utama saya di rumah. Dari pagi hingga malam saya lebih banyak “rempong” sama tiga bocah saya yang alhamdulillah sedang aktif-aktifnya minta perhatian dari saya. Jadi menulis itu kalau sedang ada waktu senggang saja, misalkan ketika anak-anak sudah tidur dan mata saya bersahabat enggak ikutan merem bareng bocah-bocah. Hahaha.

Kata kuncinya yaitu limiting belief. Merujuk kepada salah satu tulisan mbak Juliana Dewi-atau biasa disapa mbak Iwed, seorang blogger yang juga praktisi enlightening parenting and self improvement, limiting belief adalah keyakinan-keyakinan yang tidak memberdayakan. Jika keyakinan ini disematkan kepada diri sendiri maka akan menghambat kita bertumbuh menjadi lebih baik. Jika disematkan kepada orang lain, maka menjadi label negatif bagi orang lain tersebut. Tentunya hal ini tidak baik bagi orang tersebut dan juga bisa mengganggu emosi kita sendiri ketika berhadapan dengan orang yang bersangkutan.

Sudah kebayangkah teman, apa yang dimaksud dengan limiting belief? Yuk mari kita pelihara yang baik-baik saja untuk diri kita dan juga untuk orang-orang yang ada di sekeliling kita.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi teman-teman yang membaca, terutama yang sedang mengalami writer’s block.

Mataram, 19 Oktober 2018
Salam

Referensi:

http://www.julianadewi.com/2018/04/cara-jitu-mengugurkan-keyakinan-tidak-memberdayakan-dengan-meta-model.html; tanggal akses 19 Oktober 2018

https://viedyana.com/2018/04/18/javaspace-coworking-kerja-senyaman-rumah-fasilitas-selengkap-kantor-mau/; tanggal akses 19 Oktober 2018

 

 

SuKa dengan artikel ini? Yuk, bagikan!

Viedyana

Emak dari tiga bocah kecil, domisili di Mataram, Lombok. Suka jalan-jalan, icip-icip makanan, dan menulis. Ada yang ingin ditanyakan atau bekerjasama untuk review usaha, produk dan lain-lain silahkan kontak vidya.nafsil@gmail.com

9 thoughts on “JITU! Menyingkirkan Writer’s Block dengan Menyingkirkan Limiting Belief

  1. Saya juga pernah banget begini. Sebulan cuma brapa tulisaaan gitu. Pingin nichenya A, tapi nggak sanggup. Akhirnya ganti haluan biar bisa lebih produktif nulis. Hehehe…

    Kalau sekarang sih, banyakin nyari sumber inspirasi aja biar ada ide tulisan gitu. Kalau udah dapet langsung corat-coret outlinenya apaan. Biar gak kabur-kabur lagi tuh ide. Hehehe…

    1. Hahaha saiyah punya teman gegayaan pengen niche A, tapi aku belum sangguuuuuup. Jadi aja isi si blog udah kayak gado-gado wkwkwkwwk…
      Si ide supaya gak kabur kudu dikekepin ya mbak. eh tapi saya kalo lagi rempong sama bocah suka kelewatan aja ih mau corat coret ide yg tiba-tiba datang gak kenal waktu. Hiks..

  2. Kalau saya bukan masalah nggak punya ide, tapi need more lots of time huhuhu harus bisa memanage waktu. Dengan niche semakin spesifik, saya lebih leluasa menggali ide. Kayak skarang belum update blog karena capek sangaaaaat, padahal foto dan video dah ada hhuhuhu …

    Etapi, kalau writer’s block itu lebih condong ke penulis ya (novel, non fiksi), kalau ngeblog mah malas aja update kayak saya dengan seribu alasan. wkwkwkw

    Thanks for sharing, mbak. Salam kenaal ^^

  3. nah hal yang mbak alami sama persis kayak yg saya alami, kalo udah inspirasi memenuhi kepala kadang suka gak tahu mau menuangkannya kayak mana. udah semangat banget mau nulis eh pas udah depan komputer langsung blank dan gak berkutik. kadang kalo udah gini perlu refrshing dulu kalau gak cari angin bentar dengan blogwalking ke blog orang lain hehehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *