Sebuah Catatan, Delapan Tahun Setelah Melahirkan Anak Pertama

Sebuah Catatan, Delapan Tahun Setelah Melahirkan Anak Pertama

Bismillah.

Assalamualaikum.

(16/11/10) Lewat tengah malam di hari itu-delapan tahun yang lalu, tangisan itu saya dengar untuk pertama kalinya. Seorang bayi laki-laki akhirnya lahir ke dunia setelah 38 minggu tumbuh dan berkembang di rahim saya. Di hari itu dengan tetesan air mata Allah Ta’ala mengizinkan saya menjadi seorang ibu dari bayi mungil yang kemudian hari kami beri nama Ibrahim.

(16/11/18) Kini delapan tahun berlalu. Sedari anak-anak kecil saya dan suami tidak membiasakan anak-anak untuk merayakan yang namanya ulang tahun. Tidak ada ucapan selamat ulang tahun, tidak ada kue ulang tahun, tidak ada yang namanya acara tiup lilin, tidak ada yang namanya pesta ulang tahun.  Semua berlalu seperti hari biasanya.

Hingga hari ini, empat hari setelah genapnya sulung saya berusia delapan tahun, percakapan kami sore itu masih saja membekas di hati saya. Sebuah percakapan sederhana. Namun bagi saya maknanya sungguh dalam. Walau usianya sudah menginjak delapan tahun, namun saya masih senang memeluk sulung saya ini.  Sssssttttt… mengenai peluk memeluk ini saya pernah kena warning di rumah setelah ia  pulang bermain.

“Bunda enggak boleh peluk-peluk kalau lagi deket temen saya.  Malu. Udah besar.” Katanya.

“Kalau lagi berdua aja gak apa-apa, kan?” Emak ngeyel dikit. Masih suka ngerasa he is my baby boy.

“Iya, kalo lagi berdua aja gak apa-apa.”  Begitu katanya kala itu.

“Baiklah. Maafkan yang tadi ya, Nak. Kan Bunda enggak tahu.”

Ia tersenyum, mengangguk kemudian berlalu. Dan kesepakatan itu masih berlaku hingga kini. #sedihnya emak. Hiks! Lebay.com Hehehe

Begitu juga dengan sore itu. Kami hanya berdua di kamar. Jadi saya bebas mau peluk-peluk my bujang. Hehe. Setengah tiduran dengan banyak bantal di punggung dan kepala kami. Tidak lupa tangan kiri saya merangkul pundaknya. Dengan kepalanya yang dimiringkan ke kanan,  ke pundak kiri saya, my bujang bercerita tentang cerita Karun yang ia dapatkan dari ustadz yang mengajarnya di sekolah.

“Bunda tahu tentang Karun? Ia itu orang yang banyak sekali hartanya. Ia tinggal di Mesir, di tempatnya Firaun. Tapi dia enggak bersyukur sama Allah, Bunda. Ia menjadi sombong karena punya banyak harta. Kemudian Allah mengazabnya, Bunda.  Karun ditenggelamkan oleh Allah. Harta-hartanya juga. Semuanya masuk dalam tanah.”

“Iya, Nak Bunda tahu tentang cerita itu. Kita jadi orang enggak boleh sombong hanya karena memiliki harta yang berlebih dari orang lain. Semua hanya titipan Allah. Sifatnya sementara. Kalau yang namanya dititipin sewaktu-waktu bisa diambil lagi sama yang punya. Yang punya siapa hayo?”

“Allah kan.”

“Naah itu tau. Jadi punya harta banyak itu harus bersyukur. Punya sedikit juga harus bersyukur. Enggak boleh sombong.  Allah itu ketika memberi sebenarnya tidak pernah berlebih tidak pernah kurang, Nak. Semua yang diberikan kepada kita itu pas. Sesuai dengan takarannya. Semua ada ujiannya. Harta banyak ada ujiannya, harta sedikit juga ada ujian. Contohnya ya seperti Karun itu.”

“Iya ya Bunda, Karun jadi lupa bersyukur dan sombong karena diberikan harta yang banyak.”

“Iya, Mas Adha harus selalu ingat untuk bersyukur ya. Enggak boleh sombong apalagi karena harta.”

“Iya, Bunda.”

Nak, doa Bunda semoga kamu selalu ingat tentang ini sampai kapan pun. Selalu ingat Allah Ta’alla. Selalu ingat untuk bersyukur. Selalu ingat untuk tidak sombong. Aamiin.

Mataram, 20 November 2018

SuKa dengan artikel ini? Yuk, bagikan!

Viedyana

Emak dari tiga bocah kecil, domisili di Mataram, Lombok. Suka jalan-jalan, icip-icip makanan, dan menulis. Ada yang ingin ditanyakan atau bekerjasama untuk review usaha, produk dan lain-lain silahkan kontak vidya.nafsil@gmail.com

2 thoughts on “Sebuah Catatan, Delapan Tahun Setelah Melahirkan Anak Pertama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *