Telur Mata Sapi dan Capernya Si Kecil

Assalamualaikum,
Hi mamah-mamah muda nan kece, pernah gak seh ngalamin anak merajuk untuk mendapatkan perhatian? Sebagai mahmud asti- mamah muda anak sudah tiga, saya sering banget ngadepin yang satu ini. Dan merajuk ini tidak mengenal waktu lho. Bisa kapan saja. Pagi, siang, sore, malam. Salah satu jejak merajuk itu sempat saya abadikan dalam tulisan di bawah ini. Hm..mau tau bagaimana cara saya menyikapinya? Yuk lanjut baca! Semoga bermanfaat ya.
***

Ada saja cara unik setiap anak untuk mendapatkan perhatian dari orang tuanya. Terutama yang baru saja beradaptasi dengan keadaan baru. Baru punya adek maksudnya.

Masih saya ingat ketika masih hamil, duo bocah sangat antusias sekali mereka akan punya adek bayi. Tapi kini ketika baru memasuki bulan keempat, hohoho kecemburuan meningkat dan tiap sebentar suka bener mengeluarkan senjata baru; “Bunda enggak perhatian deh!”

Ah, kalimat ini bikin mak jleb di hati saja. Rasanya jiwa raga ini pengen dikloning. Satu buat si sulung, si tengah, si bontot dan satu lagi buat si pak suami.

Seperti pagi kemarin, hari minggu, saya masak nasi goreng untuk sarapan pagi. Mumpung di kulkas ada sisa bumbu ayam ungkep. Jadi abis shubuh saya udah sibuk di dapur kupas-kupas, iris-iris, oseng-oseng. Bawang putih, bawang merah, daun bawang, cabe merah besar, tomat dan enggak ketingalan si bumbu ayam ungkep.

Selain itu saya juga ngiris daging pangek yang juga sisa kemarin. Dibuang sayang. Jadilah semua dicampur jadi satu. Karena di dalam nasi goreng sudah ada irisan daging, telur yang biasa dicampur dalam nasi goreng, kini saya masak dadar trus digulung. Dadar telur yang kemudian saya iris-iris.

Nasi goreng ala Chef Vidya terhidang di meja. Satu persatu duduk di meja makan. Sedangkan saya berdiri dekat meja makan sambil menimang-nimang Nadya. Bayi mungil ini tahu aja saya udah selesai berjibaku di dapur. Tiba-tiba nangis padahal tadi anteng selama saya masak nasi goreng. 

Ah yuk mari, selesai urusan satu, kita urus urusan lainnya. Hahaaaaaay!

“Nasi gorengnya wangi, Bunda,” ujar Adha, anak sulung saya. Wajahnya sumringah.

Adha semangat makan pagi. Ia menuang nasi goreng tiga kali sendok nasi ke piring yang sudah saya sediakan di meja. “Enak Bunda!” ujarnya lagi ketika suapan pertama sudah selesai dikunyah.  Senang tiada tara mendengar ucapan Adha.

Tapi, bahagia saya tidak berumur panjang. Jika Adha bahagia dengan sarapan pagi ini, tidak begitu dengan adiknya, Ramadhan. Rama mogok makan. Ia tidak menyentuh sedikit pun sarapan yang saya siapkan. 

“Bunda, kenapa bikinnya telor dadar? Rama pengennya telor mata sapi.”

Saya membujuk Rama supaya makan makanan yang terhidang di meja. Dan dia keukeuh maunya makan nasi goreng pake telor mata sapi. Nadya yang saya timang-timang masih saja rewel. Olalaaaa pagi-pagi udah diuji dengan kesabaran.

“Bunda, Rama mau makan sendiri. Enggak disuapin Bunda. Tapi, makan nasi gorengnya pake telor mata sapi.“

Sejak kelahiran Nadya adiknya, Rama sering sekali makan minta disuapkan, padahal sebelumnya ia telah mandiri, bisa makan sendiri, baik dengan sendok ataupun dengan tangan.

Hm…baiklah, daripada drama ini melebar kemana-mana dan berkepanjangan, saya  minta tolong suami untuk gendong Nadya sebentar, kemudian saya gorengkan  si telur mata sapi untuk Rama. Tidak lupa sebelumnya saya juga tanya Adha apakah ia mau telur mata sapi juga. Gelengan kepalanya menjadi sedikit penawar  kekesalan saya pada adiknya pagi ini. 

You close it so nice Boy! Telur mata sapi beres, Rama menuang nasi goreng ke piring makannya. Ia mengunyah nasi goreng. Tidak lupa membaca basmalah sebelum makan. Kenceng pula.

“Bunda….pinter kan Rama. Rama inget baca bismillah sebelum makan,” Ia berujar dengan wajah yang sangat bangga.

Suami yang sudah mulai menyuap sarapan paginya senyum-senyum melihat tingkah laku anaknya pagi ini. Saya yang sudah menimang-nimang Nadya   yang masih saja rewel terpaksa memasang wajah senyum. Seneng dengernya, tapi….“Iya, Nak. Rama pinter banget pagi ini. Tapi lain kali, makan apa yang ada di meja aja ya. Belajar bersyukur dengan apa yang tersedia.” Saya enggak tahan pengen mengoceh.

“Iya Bunda, sekali ini aja. Besok-besok enggak lagi,” kali ini suami saya yang bersuara.

“Iya, Bunda.” Ujar Rama. “Telornya enak, Bunda,” ujarnya lagi.

Oh Boy!

Tiga jagoan makan bersama-sama di meja makan. Dan saya masih setia berdiri memperhatikan mereka makan dengan lahapnya sambil menimang Nadya yang perlahan anteng. 

Rasa kesal lenyap seketika, berganti bahagia. 
****
Salam

Vidy
“Mari Berbagi dengan Menulis”

** Artikel tersebut di atas sebelumnya sudah pernah diterbitkan di website Tutur Mama pada tanggal 1 Desember 2016 dengan judul yang sama: Telur Mata Sapi dan Capernya Si Kecil.

Share This. ++Terima kasih telah membaca. Semoga bermanfaat dan menginspirasi++

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *